7 Bahaya Sinetron Bagi Perkembangan Anak

5:26:00 PM

P.S.: Tulisan ini gue buat setelah rampung mengedit sebuah naskah yang ditulis oleh seorang siswi SMP. Naskah yang ia tulis bertemakan percintaan SMA. Berbagai adegan dan kata-kata sama seperti sinetron kekinian. Gue dibuat geleng-geleng kepala karenanya, sehingga banyak perubahan yang gue lakukan pada naskah tersebut.
Baru-baru ini kabar tentang KPAI yang memblokir berbagai game online santer terdengar. Alasannya adalah game tersebut berisikan kekerasan yang dapat menghilangkan rasa empati pada anak. Pemblokiran ini dijadikan sebuah solusi dalam membantu orangtua mengawasi anak mereka karena dianggap sebagai kegiatan yang paling sulit dimonitor.

Umumnya, game-game yang dimaksud itu dimainkan oleh anak laki-laki. Terlepas dari pro dan kontra soal pemblokiran game di Indonesia, bagaimana dengan anak perempuan?

Ada hal lain yang amat berpotensi menjadi virus negatif terutama bagi anak perempuan, bernama sinetron. Sebelum masuk ke poin apa saja yang menyebabkan sinetron menjadi bahaya bagi perkembangan anak, izinkan gue bercerita.

Gue tumbuh dan berkembang bersama sinetron-sinetron Indonesia. Sinetron pertama yang paling gue ingat di masa kecil adalah Keluarga Cemara, di mana gue mulai menonton sinetron satu ini saat berusia empat tahun (sinetron ini tayang mulai tahun 1996, tapi waktu itu gue masih dua tahun). Ceritanya berkisah tentang sebuah keluarga yang dulunya kaya raya, tapi mereka harus jatuh miskin. Sang Abah harus banting setir menjadi seorang tukang becak dan melakukan apa pun yang bisa ia kerjakan demi menghidupi anaknya. Emak pun membantu Abah dengan membuat opak yang dijajakan bersama anak mereka.

budaya-sensor-mandiri
Si Doel Anak Sekolahan
sumber: http://www.beranda.co.id/
Setelah itu, ada Si Doel Anak Sekolahan. Sinetron ini masih sering ditayangkan ulang di televisi hingga sekarang. Si Doel (Rano Karno) adalah anak Betawi asli yang terlibat cinta segitiga dengan dua gadis yang punya latar belakang berbeda, Zainab si gadis kampung yang tinggal dekat dari rumahnya dan Sarah si gadis modern yang kuliah di satu kampus yang sama dengan Doel.

Ada juga sinetron yang nggak kalah hits yaitu Tersanjung. Ah ya, cerita yang suka bikin gue terenyuh. Indah (Lulu Tobing) adalah gadis yatim piatu yang dibesarkan oleh keluarga pamannya. Indah bekerja di usaha percetakan membantu sang paman. Suatu hari, Indah berkenalan dengan salah seorang pelanggan. Lambat laun dari perkenalan itu, tumbuh ketertarikan antara mereka. Indah yang masih lugu terbuai oleh rayuan sang pria hingga akhirnya dia hamil. Istri sang paman yang mengetahui Indah hamil, kemudian mengusirnya. Paman dan sepupunya telah berusaha mencegah, tapi tidak berhasil.

budaya-sensor-mandiri
Pindah channel dari SCTV menjadi Indosiar
sumber: pangeran229.files.wordpress.com

Sewaktu gue SMA, sekitar umur 12 tahun, ada sinetron yang punya season tak kalah panjang dengan Tersanjung, yaitu Cinta Fitri. Sinetron ini seakan menghidupkan lagi era kejayaan sinetron dengan episode yang amat banyak. Fitri (Shireen Sungkar) adalah gadis lugu asal Wonosobo yang tengah mempersiapkan pernikahannya. Ia pergi ke Jakarta untuk bertemu dengan calon suaminya. Namun, calon suaminya meninggal dan Fitri dianggap sebagai pembawa sial. Dia di sana bertemu dengan Farrel (Teuku Wisnu) yang akhirnya menjadi atasannya. Cinta tumbuh antara Fitri dan Farrel, lalu konflik pun dimulai.

Sebagai anak di bawah umur, pada masanya gue menonton sinetron-sinetron itu bersama keluarga. Mama dan Papa selalu bersedia menjelaskan bagian cerita yang gue nggak mengerti. Bukannya tidak banyak adegan atau perkataan di sinetron itu yang nggak sesuai buat anak di bawah 5 tahun. Namun, berkat bimbingan dan pengawasan orangtua, hal-hal yang bersebrangan tersebut tidak menjadi masalah yang berarti. Ini merupakan cara di keluarga gue sebagai wujud budaya sensor mandiri. Di masa itu, pemberian label rating D (Dewasa), BO (Bimbingan Orangtua), dan SU (Semua Umur) juga masih sering digunakan.

Sebelum cerita gue semakin panjang, ada setidaknya 7 bahaya sinetron bagi perkembangan anak.

1. Kelumpuhan berpikir kritis dan melemahkan kognitif

Episode berkepanjangan yang membuat penonton penasaran, membuat otak menjadi kian pasif. Bagaimana tidak, banyak anak yang mungkin mengalihkan hobinya untuk menonton sinetron. Gue sendiri punya keponakan yang tadinya hobi membaca komik, lalu mulai melupakan hal itu karena sinetron. Dengan terus menerus menatap layar kaca selama satu jam bahkan lebih setiap harinya, tentu bisa saja merusak kecerdasan otak sebelah kanan. Ini nggak cuma terjadi sama anak kok. 

Ayolah ngaku, siapa di antara kalian yang hobi nonton serial Uttaran sampai-sampai lalai bekerja di siang hari. Sembari masak, menyetel Uttaran yang penuh dengan luapan emosi. Padahal, orang-orang dewasa tentu tau kalo sinetron ya, begitu-begitu saja dan itu hanyalah suatu hiburan. Meski memiliki pesan moral, tetap saja minim mengasah intelektual karena sinetron tidak merangsang anak untuk berpikir.

2. Lebih tua dari usianya

Bagaimanapun, penampilan adalah hal yang menimbulkan impresi bagi orang lain. Cara berpakaian akan mencitrakan sifat dan sikapnya. Anak-anak yang gemar menonton sinetron cenderung suka berpakaian yang membuat mereka terlihat lebih tua. Belum lagi, fakta yang menunjukkan bahwa anak di bawah umur hobi ber-make up agar bisa tampil seperti artis-artis dalam sinetron tersebut. Padahal, ini tidak sesuai dengan usia mereka apalagi kita tinggal di Indonesia.

3. Bertutur tanpa aturan 

Jangan pernah menyalahkan anak yang berkata kasar atau melontarkan kata-kata yang tidak patut jika kita masih membiarkan mereka menonton sinetron tanpa pengawasan. Mungkin memang, kata-kata tersebut bukan muncul kali pertama dari sinetron. Namun, jika kata-kata tersebut dilontarkan oleh pemain sinetron, tentu ini bisa mewabah karena bisa ditonton siapapun.

budaya-sensor-mandiri
Sinetron yang banyak menelurkan istilah-istilah
sumber: www.ceritamu.com
Banyak lho, istilah-istilah yang merebak karena sinetron. Contohnya, "kamseupay iyewh" yang merujuk pada "kampungan". Istilah ini sering digunakan sejak sinetron Putih Abu-Abu di tahun 2013. Kadang suka geli kalo ada bocah yang pake istilah-istilah kayak gini saat lagi berbicara. Mulutmu adalah hasil isi kepalamu. Bantulah anak memfilter apa yang sebaiknya mereka ambil dari sebuah sinetron dan apa yang tidak layak.

4. Susah bersosialisasi

Kisah-kisah sinetron zaman sekarang banyak menceritakan perseteruan antar geng di sekolah. Sebut saja yang sedang tayang, ada Anak Jalanan (RCTI) dan Mermaid in Love (SCTV). Kerap mem-bully satu sama lain dan juga terkesan mengelompok, ini bisa mempengaruhi anak menjadi sulit sensitif terhadap orang baru. Merasa kelompoknya lebih baik dan memberi rasa aman.

5. Hanyut dalam karakter dan alur cerita

Remaja di bawah umur sangat rentan terbawa dalam kisah sebuah sinetron. Bagaimana para fans Prilly Latuconsina dan Aliando Syarief menginginkan mereka benar-benar pacaran setelah efek peran Sisi-Digo pada sinetron Ganteng-Ganteng Serigala? Nggak jarang, mereka mengimpikan kisah cinta seperti yang Jessica Milla-Kevin Julio ataupun Prilly-Aliando alami di sinetron tersebut. Betapa banyak remaja Indonesia yang masih duduk di bangku SMP, yang lebih mendambakan pelukan hangat sang pacar ketimbang mendapat prestasi baik akademis maupun non-akademis.

budaya-sensor-mandiri
Uttaran dan segala problemanya
sumber: solopos.com
Dalam Uttaran, tokoh Tapasya dan Frans pernah melakukan percobaan bunuh diri karena gagal mendapatkan orang yang mereka cintai. Ini bisa menanam pesan kalo kematian adalah cara menyelesaikan masalah ataupun membalaskan dendam. Gue bukannya bilang pacaran atau cinta-cintaan itu nggak boleh, tapi sinetron kini banyak menjual kisah cinta yang berlebihan untuk menarik penontonnya.

6. Benih-benih permusuhan, kekerasan, bahkan pornografi

Dulu ada tuh, berita yang sempat booming soal anak yang loncat dari lemari karena merasa dirinya adalah Superman. Sama halnya dengan berbagai adegan kekerasan secara verbal dan non-verbal yang ada di sinetron. Perkelahian yang dilakukan di sinetron memanglah rekayasa, tapi menjadi realistis bagi penontonnya. Kesal ketika melihat Boy dikeroyok oleh Geng Kobra, pasti pernah dialami para remaja penikmat Anak Jalanan. Meskipun pada akhirnya, Anak Jalanan memperhalus ceritanya karena sempat ditegur KPAI dan juga menambahkan banyak unsur ibadah juga belajar, ini tidak menghapuskan unsur kekerasan dalam sinetron tersebut.
Nyokap gue sampai pernah nanya, "Apa ada ya, remaja yang hobinya motor-motoran, nongkrong di warkop tiap hari? Kalo ada, kasian orangtuanya." Hmmm, menurut lo gimana?

budaya-sensor-mandiri
Anak Jalanan yang sering menduduki peringkat pertama di jajaran tayangan televisi
sumber: duniaku.net
Sinetron kini juga menayangkan betapa beraninya muda-mudi masa kini mengekspresikan diri. Nggak suka sama gaya temen lo? Labrak aja, hajar aja. Membuat anak-anak bisa merasa gagah-gagahan dan lebih jago dari teman seusianya. Mau dianggap kece? Makin mini makin asyik. Tentu perkelahian dan gap yang anak-anak atau remaja tonton di sinetron menimbulkan rangsangan untuk menjadi lebih agresif.

7. Menjadi parameter identifikasi remaja

Berunsur kemewah-mewahan, gaya hidup ke-Barat-Barat-an, dan nuansa hedonisme adalah hal umum yang kita jumpai di sinetron sekarang. Sinetron sebagai agen sugesti memunculkan banyak konsep-konsep di kepala anak. Misalnya, pacaran di masa sekolah adalah kegiatan yang menyenangkan. Anak perempuan itu cantik kalo berkulit putih, kurus, dan berambut lurus. Gaul itu dengan menggunakan kosakata-kosakata yang sedang hip. Inilah akar-akar yang membuat anak menginginkan gaya hidup tertentu, seperti merengek ingin gadget trendi, melakukan diet ekstrim, atau memburu obat-obat pemutih yang sekarang dijajakan banyak orang.

Itulah 7 bahaya sinetron bagi perkembangan anak. Masih ada yang lain? Masih, tapi nggak cukup untuk gue jabarkan semua di sini.

Beberapa anak menonton sinetron sebagai baby sitter atau teman mereka di rumah karena sibuknya orangtua bekerja. Mereka duduk berjam-jam di depan televisi, padahal itu sangat bisa mengganggu fisik dan psikisnya. Hasrat ketergantungan membuat mereka rela berdiam diri untuk menonton pemeran favoritnya. Cium pipi sembarangan dibilang so sweet. Punya pacar keren di sekolah biar jadi yang paling populer. Kita tidak bisa menampik bahwa jenis peran yang dimainkan oleh para artis kerap berlawanan dengan norma pergaulan masyarakat Indonesia dan belum sesuai dengan tingkat perkembangan psikologi anak.

"Kan bisa diambil sisi positifnya, sih...."
Iya, bisa diambil sisi positifnya bagi orang dewasa atau memang remaja dengan cara berpikir yang lebih dewasa. Namun, jika konten yang ditawarkan bukan konsumsi pada usianya, ini bisa menjadi senjata pikiran yang sangat bahaya. Perubahan perilaku sangat mungkin untuk terjadi.

What they see is what they do
Sinetron Mermaid in Love rata-rata diperankan oleh remaja usia 16 tahun. Tentunya, penggemar mereka ada di rentang usia lebih muda. Topik utama dari kisahnya adalah seorang cowok yang jatuh cinta pada putri duyung. Oke, lagi-lagi cinta. Kisahnya selalu sama, nggak jauh-jauh dari cowok yang jadi rebutan atau sebaliknya. Sinetron ini termasuk berani dalam penggunaan kostum mermaid yang menurut gue kurang nyaman untuk dilihat (setiap kali dia bergerak, memungkinkan area dada terlihat jelas). Padahal, di berbagai pagelaran misalnya, selebritis perempuan sampai harus menggunakan kaus lengan panjang berwarna mirip dengan kulit ketika mengenakan pakaian jenis kemben. Atau kalo tidak yaa..., kena sensor.

ayo-sensor-mandiri
Upsss....
sumber: www.hotmagz.com
ayo-sensor-mandiri
Putri duyung dalam Doraemon pun turut disensor
sumber: www.hotmagz.com
budaya-sensor-mandiri
Tokoh utama Mermaid in Love (R.I.P. desain grafis)
sumber:sctv.co.id
budaya-sensor-mandiri
Diduga mengadaptasi drama korea Surplus Princess (kiri) - Mermaid in Love (kanan)
sumber: wowkeren.com

Dengan kemudahan teknologi, ini semakin menambah fenomena di kalangan anak, yaitu men-stalking pemeran sinetron. Coba saja cek akun media sosial ABG artis sinetron, penuh komentar fans (yang sama ABG-nya dengan mereka). Baik komentar dukungan maupun saling sikut antarpenggemar. Ini bisa menjadi acuan bahwa sinetron begitu menyentuh jiwa anak-anak yang menikmatinya.

Sinetron bertema pendidikan dan mencintai negara Indonesia
Ada juga kok, sinetron seperti Aku Anak Indonesia yang topik utamanya adalah mimpi dan pendidikan. Walaupun, realitanya sinetron yang fokus pada konflik cinta dan drama keluarga lebih laris manis daripada sinetron bertema pendidikan. Ini terbukti dengan rate dan share yang tinggi.

Sinetron sebagai refleksi perilaku remaja sekarang atau remaja sekarang merefleksikan isi tayangan sinetron.

Ah ya, bukannya dengan ini gue mengajak kalian nggak nonton sinetron apalagi mendiskreditkan judul-judul sinetron yang gue tuliskan. Namun, alangkah baiknya orangtua mengaktifkan perannya dalam pengawasan anak. Bukankah itu sudah menjadi prioritas? Terlalu sia-sia untuk mengecam  atau membenci tayangan sinetron karena toh itu memanglah sebuah industri di mana keuntungan menjadi salah satu patokan utama. Belum lagi, sinetron-sinetron ini ditayangkan pada jam prime time di mana memungkinkan anak menonton. Nggak ada salahnya untuk melakukan budaya sensor mandiri seperti apa yang sedang diusung oleh LSF RI (Lembaga Sensor Film Republik Indonesia).

Mari kita laksanakan self-censorship atau swasensor, menjadikan kita bertanggung jawab guna memilih dengan sadar berbagai program dan tayangan yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak.

You Might Also Like

12 comments

Comments
12 Comments
  1. udah nonton sampe abis surplus princess, baru tau kalu ada copasannya jadi sinetron sekarang hahaha. mungkin inspirasinya kayak sinetron putri duyung yg dulu di indosiar makanya mereka berani unculim mermaid in love itu kak. syukurlah udah lama ga nonton tivi hehe

    ReplyDelete
  2. Terimakasih banyak atas ulasannya. Ini sangat penting sekali di dedungkan, mengingat sudah banyak terjadi dekadesi moral bagi anak2 jaman sekarang..

    salam kenal.

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. Ihh, ngeri juga ya kak kalo yg nonton sinetron anak dibawah umur, meskipun dulu aku jg suka nonton 😁

    ReplyDelete
  5. Well, saya sendiri sebenernya bukan penggemar sinetron :D *karena di kos gak ada tv*
    Tapi, setuju sama pendapatmu, Khan. Sisi negatif sinetron memang sering mempengaruhi mindset penonton, terutama anak-anak :3

    Lanjutin nih ceritanya masih banyak kayaknya, Khan, "Bahaya Sinteron part2" :v

    ReplyDelete
  6. mungkin KPAI dan LSI harus lebih selektif lagi dalam memilih sinetron yang layak tayang. karena kalau tidak disaring dengan baik generasi remaja indonesia akan semakin rusak.

    ReplyDelete
  7. sulit juga kalau sinetronnya sudah masuk rating paling tinggi.

    ReplyDelete
  8. Bener banget. Awalnya saya nggak peduli sih, sama isi tv jaman sekarang, karena lebih suka main internet. Tapi waktu ngeliat anak sd yang asik banget ngobrolin tentang kisah cinta si Boy dan denger tetangga cerita anaknya yang masih TK punya impian jadi serigala ketika ditanya tentang cita-citanya, jadi sedih juga. Ngerem fenomena sinetron remaja ini kalo dipikirin emang susah, sih. Tontonan kartun anak sekarang udah langka, terus banyak orang tua yang gak aware sama dampaknya. :(

    ReplyDelete
  9. lebih baik anak-anak jangan diberikan tontonan yang tidak bermutu

    ReplyDelete
  10. Kalau menurut saya, hentikan anak-anak menonton sinetron... h-hee. Itu aja.

    ReplyDelete
  11. sayaa setuju banget sama posting yang satu ini, di kala orang lain hanya mencaci maki film yang di tayangkan itu tidak baik lewat sebuah status dan perang hashtag di twitter, setidaknya ini di suguhkan dengan berbagai alasan yang memang patut di pertimbangkan..

    Bener benerr... saya lihat remaja kini dandannya cetar padahal cuma kesekolah. Ya gitu, kadang tujuan kesekolah bukan HANYA untuk belajar. Tapi gegayaan, dan meniru tokoh idolanya..
    Pacaran.
    Trus naik motor ga karukaruan..

    syedih,
    semoga pertelevisian indonesia juga selektif dalam memberikan penayangan sinetron yang bagus di Negri ini. Amin..

    ReplyDelete