Terima Kasih Sonya Depari

4:17:00 PM

“Oh oke, mau dibawa? Siap-siap kena sanksi turun jabatan ya. Aku juga punya deking! Oke Bu ya, aku nggak main-main ya. Kutandai Ibu ya. Aku anak Arman Depari!”
Rekaman video tersebut diulang-ulang dalam berbagai siaran berita. Bukan itu saja, ratusan ribu jiwa memutarnya berkali-kali di video streaming. Banyaknya pengabadian momen “kutandai ya” dalam meme-meme yang viral, segera merebak layaknya virus H5N1.


Sonya Depari harus menanggung akibat sikapnya yang dianggap tidak beretika karena membentak seorang Polwan dan mengaku-ngaku sebagai anak Deputi BNN, Arman Depari saat akan ditilang. Ayahnya pun meninggal tak lama pemberitaan tentang Sonya Depari hadir bertubi-tubi di media. Namun, entah apa yang membuat Sonya Depari menjadi pantas untuk di-bully sebegitunya. Arogansi? Kebohongan? Attitude minus sebagai pelajar? Adakah hakim terpantas untuk mengadili karakter manusia?

Berkat media sosial, mudah sekali membuat manusia menjadi sebuah objek yang berhak “ditelanjangi” siapa saja. Tidak ada lagi dinding pembatas, secara real-time kita bisa berubah sebagai si paling tau tentang orang lain. Sampai ada statement yang mengatakan kalau Sonya Depari adalah contoh anak salah asuhan. Duh, duh, duh, semudah itu ya, menyimpulkan histori hidup seseorang.

sonya depari
Terima kasih Sonya Depari
Andai Sonya Depari adalah remaja di era 80-an…, belum ada Path untuk pamer lokasi ataupun YouTube untuk ajang unjuk gigi. Mungkin, dia akan santai saja saat ini. Nggak perlu takut keluar rumah, menghadapi pandangan kebencian orang-orang. Sayangnya, ini adalah masa di mana semua insan bisa menjadi reporter, apa pun latar belakang dan pendidikannya. Kuncinya cukup pada ujung jari saja! Hebat, bukan?

Andai Sonya Depari adalah kita, sanggupkah mengangkat kepala melihat dunia?

Hei hei, kasus bunuh diri akibat bullying, apa harus menambah daftar lagi?

Terlambat, jika harus berseru kepada khalayak untuk berhenti mem-bully Sonya Depari. Gue hanya menuangkan penyederhanaan masalah ini yang ada dalam kepala gue sendiri. Bukankah banyak ya, di antara kita yang sengaja memasang stiker-stiker tertentu agar “tak mudah ditilang” saat berkendara? Bukankah ada saja yang memakai jaket dengan motif dan warna seperti anggota kesatuan yang tak perlu disebut namanya agar memiliki wibawa di jalanan? Bukankah itu juga suatu bentuk kepura-puraan untuk menakut-nakuti sebagian pihak?

Di luar memperdebatkan Sonya Depari dan kesalahannya, gue jauh nggak habis akal dengan pengunggah video potongan ucapan gadis 18 tahun tersebut. Kebijaksanaannya pun ada di ujung jari. Secara naluriah, kita punya kebutuhan untuk merasa benar. Akan tetapi, ada baiknya tidak meluapkan itu pada kesalahan orang lain. Toh, kita nggak mendapat keuntungan apa pun selain rasa…, puas. Rasa puas yang aneh dan cenderung menjijikkan.

Terima kasih Sonya Depari, pelajaran dari lo sangat berarti buat kami. Harus ekstra hati-hati dalam berkata dan berucap sebab ada CCTV di manapun yang siap menjadi bukti ataupun kesaksian. Terima kasih Sonya Depari, berkat lo, gue kembali diingatkan pergeseran budaya bisa jadi sangat berbahaya jika kita tidak cerdas menyikapinya.

You Might Also Like

47 comments

Comments
47 Comments
  1. dijaman seperti ini emang menuntut kita untuk lebih hati2 dlm bertindak dan berucap karena teknologi juga makin canggih ya, kak ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pada dasarnya hidup memang konon harus berhati-hati. Namun, sekarang harus "ekstra" kali ya.

      Delete
  2. Walau aku gak kenal (alias baru tau siapa Sonya kemaren pas siap UN), tapi bisa dibilang aku masih gak terima Sonya "diginiin". Apalagi pasti dampaknya bakal fatal. Well, memang aku gak ada belain Sonya, kubilang Sonya juga salah, tapi apa harus kesalahan selalu dijudge dan dipublikasikan ke massa hanya demi berlembar uang merah muda? Menurutku, Sonya itu peluang terambilnya kejadian tragis tindakan " lebay" massa dari banyaknya kejahatan yang tak tertangkap kamera. Coba siapa pun yang kumaksud (halah, gausah sebut merk, pada pinter semua kan?) lain kali kalau mau bertindak coba dipikirkan kedepannya kaya gimana, dan dampaknya seperti apa, dan kalau perbuatan itu dilakukan kepada diri kita kira-kira apa yang bakal terjadi. Tapi, entahlah. Bahkan mungkin ada nih yang nganggap kalau komen aku: Halah, dia kan masih bocah juga, baru aja siap UN. Dia belain Sonya karena mungkin dia kemaren "kaya gitu" juga. Terserah sajalah, ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sangat disayangkan memang. Secara nggak langsung, masyarakat merenggut masa depannya dia. Tapi, banyak juga yang bakal komentar sinis, "Ya itu risiko dia."

      Hmm, kalau dibalikin ke diri sendiri, misalnya itu keluarga kita, gimana coba?

      Delete
  3. apa yang terjadi pada sonya depari patutnya sih kita juga harus bisa menjaga etika dan sikap, ketika mengetahui dia juga merupakan seorang model, aku kaget melihat sikap nya seperti itu.

    Shok kali ahh!
    tapi jika kita melihat dari sudut pandang lain sonya juga merupakan salah dia tapi juga media membesar besarkannya, seolah klo ini ku post sepertinya akan menjadi trending topik yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, jadi semacam "senang di atas penderitaan orang lain" gitu. :(

      Delete
  4. Yup, setuju mbak, dari kasus sonya ini bisa jadi pembelajaran buat kita, karena semua orang di era sekarang bisa jadi reporter dan mengunggah hal2 yg baik dan buruk dengan mudah di jejaring sosial media.
    G bela siapa2 sih, sonya salah karena tidak memiliki etika dan tata krama yg baik, netizen yg mengecam tindakan sonya pun salah, mereka serasa Tuhan yg paling benar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju. Kalau kita bisa melihat lebih jauh, ini memang bisa saja sudah terjadi di mana-mana. Mungkin Sonya adalah bola yang naik ke permukaan.

      Delete
  5. Cuma satu kalimat buat a whole tulisan: oh iya juga ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Firaaaa jangan jujur-jujur amat! Hahahaha. Sok-sok analisis gitu, kek. :p

      Delete
  6. sepertinya banyak masyarakat kita yg blm bisa bijak menggunakan tekhnologi,
    tapi bagaimanapun jg....kita mmg hrs menjaga sikap dan ucapan....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak Avy. Gimanapun Tuhan selalu melihat umat-Nya, kan?

      Delete
  7. Saya suka artikel ini karena membahas kasus sonya dari sudut pandang lain.
    Intinya kita harus menjaga sikap etika dan tata krama..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apalagi sebenarnya nilai-nilai luhur seperti itu sudah ditanamkan sejak bangku SD.

      Delete
  8. Berat juga ya, mengingat sekarang generasi muda dekat dengan gadget ditambah lagi banyak kekosongan dalam diri karena mereka kebanyakan tugas di sekolah. Ditekan sedemikian rupa bikin anak jadi mudah emosian. Sonya hanya salah satu yang tampak karena sempat kerekam, di luar banyak yang lebih parah dari Sonya. Tapi ya, balik lagi ke seberapa penting sebenarnya efek dari pemberitaan ttg Sonya yang menentang Polwan ini. Duh, dilema. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita juga nggak tau life history seorang Sonya Depari. Bagaimana ia dididik di lingkungannya. Seperti apa teman-temannya. Dan mengkambinghitamkan seseorang memang mudah sih, Mbak. Balik ke masyarakat harus bijak dalam memfilter informasi.

      Delete
  9. Yah...ini sebuah pelajaran berharga agar bijak bertutur kata, bersikap dan bertindak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yaaap, selalu ada pelajaran dalam setiap peristiwa di kehidupan.

      Delete
  10. Di kota gue juga ada yang kayak sonya. Lebih parah malah. Untung dia nggak direkam, dan nggak diangkat ke media sosial, jadi dia masih aman. Mangkanya, kita harus pandai menjaga sikap di era yang serba canggih ini :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Naaaah itu.
      Bisa aja yang kayak gini ada di sekitar kita. Positifnya adalah mereka dan kita bisa sama-sama diingatkan kembali bahwa mulutmu harimaumu sehingga mencegah melakukan hal yang serupa.

      Delete
  11. Setuju banget sama conclusion nya. Kita tetep harus hati hati berucap dan bertindak ama siapa saja dan dimana saja. CCTV everywhere jon !! Huhu

    ReplyDelete
  12. yup apa yang dilakukan Sonya memang salah, tapi kita juga gak sepatutnya membully dia, karena itu memncerminkan juga masarakat kita yang hampir suka melanggar lalu lintas dan kalau tertangkap bisanya ngeles. Ngeles itu ciri masarakat sekarang deh, aad saja alasan kalau melanggar aturan. masing2 kita perlu intropeksi diri

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cerminan generasi sekarang. Salah satu faktornya tentu imperialisme budaya. Semoga menjadi bekal masyarakat untuk lebih cerdas nantinya.

      Delete
  13. Pergeseran budaya yang berbahaya.... Bener banget. Mesti hati-hati, karena semakin gampang akses orang untuk membully.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Keberanian yang semakin tak tau aturan, sih, ya. Jadi sering lepas kontrol gitu, Kak.

      Delete
  14. Biar bagaimanapun inilah zaman kita, gak bisa di pungkiri kalau dampak internet itu yaa seperti ini, hrus ada yg menjadi "tumbal" utk mnjadi seorang figur di internet, baik dari segi positif dan negatif..bkn cuma sonya depari yg pnya kasus sperti ini, di internet yg mempublish video keburukan orang lain banyak., buaanyaaaaak...
    Sekarang tinggal kita menyikapinyaa
    Hati2 dlm berbuat dan berbicara mengingat ini bukan zaman dulu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lebih gampang mengingat "terburuk" daripada yang "terbaik". Sedih sebenernya, tapi mau gimana lagi.

      Delete
  15. Tutur kata dan sopan santun adalah kunci kehidupan. Mau zaman dulu atau zaman sekarang, tetap saja kedua hal itu menjadi acuan. Bukan publisitas, tp nanti juga akan merasakan efeknya.
    Aduuh saya ngomong apa sih haha.
    Intinya, jangan membenarkan perbuatan yang salah. Jaga perilaku dan tutur kata.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena yang salah adalah salah dan benar adalah benar. Kembali pada kita dalam menyaring informasi dan mengeluarkan kata maupun tindakan. Setuju!

      Delete
  16. Wah memang harus berhati-hati karena banyak kamera di depan mata

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo nggak kuat, lambaikan tangan, Mas!

      Delete
  17. Yang belum liat video Sonya Depari di tilang sama polisi, ku tandi kau ya!

    Hmm kata-kata itu jadi booming dan banyak yang menjadikan meme =D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sangkin booming-nya, kalo bercanda di real-life banyak yang pake statement itu.
      Lucu, tapi miris.

      Delete
  18. masyarakat sekarang mmg jd lebih mudah main hakim dan ngejudge

    ReplyDelete
    Replies
    1. Soalnya, informasinya lebih mudah didapat maupun disebarkan.

      Delete
  19. wah sonya ternyata cantik uga di foto sih hehe tau deh aslinya hehe.. betewe kita kudu makin hati" juga nih

    ReplyDelete
  20. sosmed emang jadi hakim di era digital seperti saat ini. Waspadalah dimanapun berada atas ucapan, tindakan dan gerak langkah kita. Karena bisa blunder dan berdampak buat kita bahkan orang banyak..

    Nice post..

    ReplyDelete
  21. dan yang paling penting intinya adalah "jangan tiru adegan ini". :)

    ReplyDelete
  22. Sebetulnya tanpa kasus Sonya Depari inipun kita sebagai manusia harus waspada dan eling, karena CCTV Tuhan lebih canggih daripada CCTV netizen itu sendiri.

    ReplyDelete
  23. hmmm,setuju..
    numpang ngoceh dikit ya, unek-unek saya. hehe

    Banyak media yang kerjaannya cuma "nyari-nyari keburukan" orang aja untuk kepentingan pribadi. Entah itu demi rating youtubenya, blog, atau apalah yang ujung2nya pasti dollar. Ditulis se-persuasif mungkin, sampe orang-orang yang ga tau apa2 pun jadi ikut-ikutan benci ama sonya depari. Bahkan banyak orang2 ikut2an jadi relawan buat nyebar gossip itu, ga dibayar! haha


    Well, sampai pada menit akhir video tersebut, menurut saya disinilah "hutang" sonya depari terbayar lunas. Tapi.. sampai kapan waktu (yang tidak dapat ditentukan) gossip ini tersebar, maka sampai saat itulah si "biang gossip" (media atau perorangan) punya dosa ama sonya depari.. ngerih gak?

    fyi: sampai sekarang (kayaknya seumur hidup deh) media gossip masih punya peluang besar menghasilkan uang loh. Silahkan dicoba deh.
    Saya sih takut, takut dosanya. Takut nanti dituntut di akhirat, dan ga bisa jawab apa2..

    ReplyDelete
  24. Oh I know this story..
    Mungkin lebih baik pulang daripada gak diakui sama anak sendiri. Mungkin...

    Kamu tau apa yang paling menyedihkan dari seseorang yang jelas2 melakukan kesalahan tapi tidak mau disalahkan? Tetap keras kepala membela diri dan playing victim and then start to post quotes like "Haters gonna hate" or "Let them hate you, bla bla bla..."
    I guess some people have no idea that the more they say anything as a self defense, the more they make themselves look really stupid as heck. Just saying...

    ReplyDelete