Aku Perempuan dan Aku Benci Menangis

12:25:00 AM


"Aku tak pernah berharap menjadi perempuan yang kisah hidupnya akan begitu mudah ditulis oleh laki-laki dalam cerita pendek," ucap perempuan itu.

Ia muak dengan hidup. Hidup sebagai perempuan seakan memaksanya menjadi orang yang harus tersenyum manis, lalu berkata pada dunia, "Hai dunia! Aku perempuan! Aku dilahirkan untuk mewarnai dunia dan tugas utamaku adalah membantu lelaki agar manusia tak lekas punah."

Dan ia cukup kesal dengan anggapan orang bahwa pekerjaan perempuan itu mudah, cukup bersolek, belanja, mengurus pekerjaan rumah tangga, dan mengangkangkan kaki ketika di atas ranjang. Nyatanya, menjadi perempuan mengharuskannya mengerti orang lain, memaksa diri untuk terus tersenyum ketika berjumpa orang lain. Namun, tak jarang segan memberi peluang untuk menghela napas kepada dirinya sendiri. Belum lagi perempuan harus menstruasi setiap bulan, menahan lilitan yang membelenggu derap langkah hingga seminggu lamanya. Ditambah pula mengernyitkan kening bahkan marah ketika orangtua menyuruh segera menikah sebelum menginjak kepala tiga.

Ia sendiri bukanlah seorang perempuan yang menginginkan dogma-dogma itu datang kepadanya. Bayangkan saja, betapa menyedihkan menjadi perempuan yang harus menyerahkan masa depannya kepada penantian dan rasa malu karena lama mendapatkan pendamping hidup. Ah, membosankan sekali rasanya harus memikirkan urusan remeh-temeh itu. Tak jarang, ia juga dibuat kesal oleh perilaku teman-temannya sendiri yang baru saja menginjak usia 30 tahun, lalu merasa terancam hak hidupnya karena dicap "perawan tua". Bodohnya, pikir perempuan itu.

Ia kian tak mengerti bagaimana bisa hal-hal seperti itu merenggut kebahagiaan para perempuan. Bukankah masih banyak hal yang sebaiknya mereka pikirkan atau kerjakan daripada mengharuskan diri mereka terjebak kepada masalah omong kosong seperti itu. Dan belum ada yang membuktikan dengan benar jika lama menikah menandakan ketidakbahagiaannya diri seseorang atau menikah muda menandakan seseorang itu sudah mencapai puncak kebahagiaan. "Bullshit," rutuk perempuan itu.

Perempuan itu memang tak pandai bersolek untuk menjadi bunga. Ia tak memiliki kecakapan untuk membuat para lelaki meliriknya, memerhatikannya, sekadar bertegur sapa menanyakan kabarnya pada pagi hari, atau menanyakan hal apa saja menjelang tidur. Ia memang seorang perempuan dan kini ia ingin berhenti menjadi perempuan.

Seperti yang sudah ia paparkan, ia seorang perempuan dengan beragam hal yang tidak spesial. Begitu banyak penolakan yang tak pernah ia berikan sebelumnya untuk diterima oleh laki-laki. Ia bukanlah perempuan yang sengaja membuat rendah harkat dan martabatnya sendiri, memakai pakaian minim agar lekuk tubuhnya terlihat jelas. Sampai-sampai, puting susu tercetak nyata di pakaian. Ia adalah perempuan pintar yang tak mencari perhatian dengan cara menipu diri. Ia suka menceritakan persoalan tabu, merayakan kegusaran, dan mencibir pesta politik di negerinya.

Maka, tentu saja ia tak punya selera untuk bersolek. Ia perempuan yang tak mengeluh ketika berdiri di antara panas dan dingin. Tak pusing memikirkan sepatunya akan basah, bahkan make-up yang luntur ketika hujan tiba. Ia suka mendengarkan musik. Ia punya selera tinggi untuk yang satu itu, terutama genre metal dan punk. Baginya, kedua genre tersebut mempunyai kasta tertinggi karena liriknya bercerita tentang sosial, kehidupan antarmanusia, bahkan hubungan manusia dengan Tuhannya. Ia juga perempuan yang memiliki keberanian, ia tak ragu untuk berkata "tidak" kepada sejumlah lelaki yang hanya menginginkan tubuhnya. Ia bukan si peragu atau perempuan sendu yang menitikkan air mata ketika hujan tiba dalam lamunan melankolis sembari membaca novel karangan pelawak hidup.

Tak jarang teman-temannya berkata bahwa ia si perempuan batu. Punya harga diri yang tinggi dan enggan terlihat lemah di mata laki-laki. Lantas, jika mereka sudah berkata demikian, tak jarang ia akan meladeni omongan itu sambil tertawa. "Bukankah kita memang ditakdirkan untuk punya harga diri oleh Tuhan? Menjadi kuat untuk hal-hal yang semestinya diperjuangkan dalam hidup. Bukankah itu suatu keharusan?"

Kemudian, biasanya mereka akan langsung membalasnya dengan sebutan perempuan lupa diri. Dan tak mengapa baginya. Ia hanya tertawa terbahak-bahak.

Namun, sejujurnya ia tergolong perempuan yang cantik, hanya saja ia enggan menjadi cantik. Ada istilah yang membuatnya begitu geli ketika mendengarkan celoteh temannya berlanjut. "Kamu tidak menghargai pemberian Tuhan, padahal kamu punya sepasang mata bulat sendu, berwajah oval dengan bibir mungil, dibalut rambut panjang nan hitam. Dan kamu, menolak semua itu."

Begitu menggelikan baginya, sampai-sampai ia bosan untuk sekadar menyisir rambut atau menggosok pakaiannya dengan setrika agar terlihat rapi. Baginya, ucapan mereka hanya utopis. "Mengapa harus menuruti keinginan orang lain? Bukankah yang menggerakkan tubuh ini adalah diri sendiri? Bukankah yang menjalani hidup ini adalah diri sendiri pula?" ucap perempuan itu sinis.

Akan tetapi, tabiatnya menjadi perempuan lupa diri semakin luntur. Seminggu yang lalu sang ibu dari kampung datang ke apartemennya, menanyakan kabar dirinya. Berceloteh panjang lebar sembari menasihatinya agar lekas menemukan pendamping hidup dan merencanakan pernikahan.

"Usiamu sudah berapa, Ndok... Ayolah Ndok, segera cari laki-laki yang baik. Memangnya selama ini tidak ada laki-laki yang dekat sama kamu?"

"Iya, Bu. Aku memang belum nemu jodoh yang tepat aja, kok. Nanti setelah aku dapat laki-laki yang beruntung itu, pasti akan aku kenalkan kepada ibu."

Ibunya begitu gusar seperti komandan batalyon yang harus segera menentukan kapan mengepung markas musuh sebelum persembunyiannya terungkap. Kini, ibunya hampir membuat ia gila. Pada awalnya sang ibu hanya akan menginap barang satu minggu. Namun, sudah hampir dua bulan lamanya beliau tak kunjung pulang.

"Lantas, kapan tho Ndok? Ibu sudah bosan. Ibu tidak melihat dalam waktu dekat kamu akan segera punya pendamping. Ibu rasa, yang membuatmu lama menikah adalah gaya busanamu itu. Cobalah dandananmu diubah. Jangan kayak laki-laki gitulah. Kamu kok, tomboi banget, sih. Mana ada laki-laki yang mau lirik kalau kamu begitu."

"Iya, Bu...."

"Ya, ibu rasa perlu membantumu dalam urusan ini. Kamu tau, Nak, dulu waktu usia ibu 20 tahun, laki-laki sudah banyak mengantre untuk mempersunting ibu menjadi istri mereka. Sementara kamu, coba lihat."

"Ya, aku tahu ibu lebih pandai bersolek ketimbang aku."

Perempuan itu dirundung cemas, ibunya pun tak kalah cemas. Sang ibu semakin menuntutnya untuk berdandan selayaknya perempuan. Ibunnya membelikan ia beragam model blus dan rok pendek yang tak jarang membuatnya risih ketika digunakan. Belum lagi ia diharuskan memoles gincu merah menyala yang ketika kali pertama orang lihat, mungkin akan berpikir dirinya bak wanita malam yang menunggu pelanggan datang. Ia sebenarnya marah, menganggap apa yang dilakukan ibunya seakan membuatnya terlihat bodoh, membuat dirinya menjadi badut sosial.

Ia pun terpaksa mengelus dada agar tetap punya kesabaran untuk menghadapi sikap ibunya. Namun, ia tetap saja ingin menjadi perempuan dengan harga diri tinggi. Baginya menyuruh dirinya menikah tak ubahnya memaksa seekor burung untuk berkokok seperti ayam.

Satu bulan kemudian, setelah tiga bulan ibunya hinggap di apartemen, akhirnya seorang lelaki mengajaknya menikah. Oleh karena dorongan sang ibu yang teramat kuat agar menyetujui lamaran itu, ia memutuskan untuk menikah. Perempuan itu tampak gembira, tapi ia masih skeptis dengan pernikahan, apa yang akan terjadi setelah ini, dan mampukah ia menjadi seorang istri yang sama dengan kebanyakan orang lain lakukan.

Sejujurnya, kalau saja ia tak dengan sengaja menyerahkan keperawanannya kepada seorang laki-laki yang akan menikahinya itu, mungkin saja tak ada habisnya ia diceramahi hingga ke liang lahat oleh sang ibu. Jadi, tak ada salahnya jika perempuan itu membiarkan dirinya dinikahi oleh lelaki yang sebetulnya ia tak pernah tahu apakah laki-laki itu mencintainya atau tidak. Yang jelas, perempuan itu lebih mencintai dirinya sendiri.

Dan kini, perempuan itu merebahkan tubuhnya pada kursi goyang di beranda rumah, di antara beberapa botol minuman di atas meja, dan hamparan puntung rokok yang telah habis ia sesap. Telinganya tengah asyik mendengarkan sebuah lagu dari band kenamaan yang saat ini digandrungi banyak orang. Berharap lagu itu setidaknya membuat ia mampu tidur dan melupakan masalah remeh bahwa ia seorang istri. Sementara, suaminya sedang sibuk bekerja dan sanggup tak pulang hingga akhir pekan tiba.

Sudah hampir setahun lamanya perempuan itu menjadi istri. Sudah selama itu pula suaminya hanya bersetubuh dengannya satu kali. Perempuan itu selalu berkata kepada sang suami agar tak mengajak bercinta ketika mood-nya sedang tidak bagus. Ia benci bercinta hanya karena alasan ia adalah seorang istri dari seorang laki-laki. Maka, tak jarang suaminya mengeluh lembut kepadanya agar diberinya izin untuk menidurinya sewaktu-waktu. Namun, perempuan itu tetap menjunjung keras kepalanya.

Ia hanya berpesan kepada suaminya. "Buatlah aku percaya bahwa kau adalah laki-laki yang pantas aku nikahi."

Belum lagi dialog teoritisnya sudah hampir membuat suaminya gila dan merasa bodoh karena tak mampu membuat perempuan itu bertekuk lutut, ia melanjutkan perkataannya.

"Bersabarlah, Sayang. Aku hanya sedang mengujimu. Bukankah dahulu kau telah mencicipi tubuhku sebelum kita resmi menikah? Ya, kali ini kau harus membayar hadiah tanpa usahamu itu," ucap perempuan itu datar.

"Aku bingung dengan maksudmu. Apa yang harus kulakukan untuk membuatmu berpikir bahwa kau adalah istriku dan sudah sewajarnya juga jika aku menuntutmu bertingkah selayaknya seorang istri!" balas suaminya dengan nada lebih tinggi.

"Ya, aku memang istrimu. Ya, kita memang sepasang suami istri, tapi bukan berarti aku harus menuruti segala maumu, bukan? Bukankah status sosial kita di mata Tuhan sama? Buatlah aku percaya kau memang pilihan yang tepat."

"Sudahlah, pembicaraan ini semakin membuatku bosan," jawab suaminya itu.

"Ya, bahkan kulihat, kau saja tak mampu menjawab pertanyaan dan pernyataanku itu. Bagaimana bisa kau membuat mood-ku bagus untuk mengajakku bercinta. Hal itu saja tak mampu kau balas dengan kata-kata baik dan bijak sebagai suami. Bagaimana bisa kau menuntunku menjadi istri yang baik?"

"Bullshit! Aku sudah muak dengan gaya teoritismu itu. Berhentilah mengajakku berdebat. Kau tahu, ibuku sudah mengidamkan seorang cucu dari rahimmu itu!"

"Pergilah bercinta dengan wanita lain kalau begitu. Jika pada dasarnya kau dan keluargamu itu hanya menginginkan keturunan, menginginkan anak dari ikatan pernikahan. Maaf, aku bukan hewan ternak, tugasku tak sekadar meneruskan keturunan manusia."

Semakin banyak pertengkaran yang melanda rumah mereka. Perempuan itu pun tampak semakin senang menjalaninya. Beberapa tetangga bermulut besar dengan usilnya juga kerap membicarakan mereka, membicarakan bagaimana perempuan itu selalu enggan disetubuhi suaminya sendiri.

"Untung ibuku telah bahagia di sana, melihatku menikah rasanya sudah cukup. Maka, sepertinya tugasku sebagai anak dalam perayaan kematian ibu telah selesai."

Perempuan itu kemudian teringat akan keinginan masa lalunya untun menato bagian tubuh intimnya dengan tulisan "No Enter". Lalu, kembali ia lupa menata rambut dan merapikan pakaiannya.

You Might Also Like

4 comments

Comments
4 Comments
  1. hahahha kayak nyambung nih sama postingan aku kemarin. ditunggu lah sambungannya

    ReplyDelete
  2. lelaki dalam cerita pendek? kok jadi macem karakter di cerpenku kahaha

    ReplyDelete
  3. ini cerpen yg gloomy... habis baca kerasa getirnya... ;)

    ReplyDelete