Disabilitas Tanpa Batas

3:25:00 PM


Mereka memiliki mata, tapi tak dapat melihat. Mereka punya telinga, tapi tak mampu mendengar. Mereka memiliki fisik yang tampak sempurna, tanpa kita tahu mereka mengidap gangguan emosi dan sulit berinteraksi.

Mereka adalah wujud penyandang disabilitas.

Klik gambar untuk memperbesar
Dipandang sebelah mata, tidak diacuhkan, atau malah di-bully, seakan menjadi budaya yang biasa didapat oleh kebanyakan dari mereka. Bukan tanpa alasan, bahkan program kebijakan pemerintah untuk kaum disabilitas pun, masih berdasarkan belas kasihan (charity). Bagaimana bisa mereka terlibat lebih banyak, jika secara tidak langsung, ruang geraknya dibatasi?

Tapi, adakah yang bisa menampik teori-teori fisika Stephen Hawking? Ahli fisika teoritis yang terlibat dalam fenomena Big Bang Theory dan dinobatkan sebagai orang paling cerdas dalam ilmu geofisika abad ini, adalah penyandang kelumpuhan akibat amyotrophic lateral sclerosis. Saraf pada otot motoriknya mengalami penuaan, sehingga otot-otot tersebut tidak mampu menerima perintah dari otak.

Stephen Hawking adalah figur yang menggambarkan disabilitas tanpa batas :)
Mulanya, Hawking masih bisa bergerak meski terbatas dan mampu mengucapkan 15 kata per menit. Namun sekarang, bahkan saraf di pipinya pun mulai pudar kemampuannya.  Sejak tahun 1997, Intel telah bekerja sama dengan Hawking, membantunya untuk mempertahankan dan memperbaiki sistem komputer bantu yang memungkinkan dia untuk berinteraksi dengan dunia.

Belakangan diketahui, sistem komputer ini diperbarui. Sensor infra merah ditanamkan di kacamatanya, sehingga Hawking dapat mengatur software Intel melalui pergerakan otot di pipinya. Hawking cukup menulis kalimat pertama menggunakan otot di pipi, lalu dikirimkan ke prosesor suara. Ketika proses mengetik dilakukan, teks prediktif menyediakan opsi untuk melengkapi kata tersebut. Tentunya, software ini membantunya menulis dengan lebih cepat.

Sistem komputer yang digunakan oleh Stephen Hawking itu adalah salah satu contoh alat bantu baginya yang disebut sebagai assistive technology. Assistive technology atau yang dikenal juga sebagai adaptive technology adalah istilah yang mencakup alat bantu, adaptif, dan rehabilitatif bagi mereka yang berkebutuhan khusus. Penemuan terus dilakukan agar memungkinkan mereka untuk melakukan tugas-tugas yang sebelumnya tidak dapat dicapai atau ada kesulitan besar untuk mencapainya. Lewat perangkat tambahan, terjadi berbagai perubahan metode berinteraksi dalam menyelesaikan tugas-tugas tersebut.

Klik gambar untuk memperbesar
Sayangnya, pengadaan alat-alat bantu itu relatif mahal. Gimana dong, buat mereka yang berasal dari keluarga dengan kondisi perekonomian terbatas? Pemerintah khususnya di Indonesia pun, belum menyediakan fasilitas pendukung yang mumpuni bagi penyandang disabilitas. Bukannya mereka nggak pengin mandiri, tapi sepertinya berbagai kekurangan dari segala aspek, harus membelenggu langkah mereka. 

Ludwig van Beethoven, justru menelurkan karya-karya fenomenal saat ia mengidap gangguan pendengaran

Disabilitas fisik khususnya, seharusnya memiliki tempat dalam bidang pekerjaan. Banyak kasus di mana seseorang nggak diterima bekerja hanya karena penurunan daya penglihatan atau kaki yang dianggap nggak sempurna. Hmmm, padahal bisa saja mereka memiliki potensi yang lebih besar dibanding pekerja dengan fisik normal.

Bahkan, ada lho, teori Economic Model of Disability yang menganut paham bahwa penyandang disabilitas secara metodologi dianggap pembuangan ekonomi, seakan tidak mungkin bagi seorang disabilitas dapat berkontribusi positif dalam masyarakat. Di mana, memberdayakan mereka dianggap sebagai kesia-siaan. Begitulah adanya, stereotip bagi mereka.
  
Shae, penyanyi asal Indonesia yang mengidap gangguan pendengaran,
sehingga hanya satu dari telinganya yang berfungsi dengan baik
Kegelisahan lainnya bagi gue dalam memandang isu disabilitas adalah kurangnya pengetahuan dan kepekaan orang-orang, sehingga sering menghasilkan persepsi yang menyimpang. Non-disabilitas yang awam, menjelma menjadi orang-orang yang judgemental sekaligus careless. Siapa sih, yang nggak pernah denger kalo autis dan down syndrome dianggap sama? Atau, anak dengan diseleksia dicap nggak mampu baca-tulis seumur hidupnya, lalu diasingkan di kelas. Nggak jarang, mereka yang mengidap cacat mental dipanggil “gila”!  Miris memang, berbagai stigma menghujani mereka yang memiliki disabilitas.

Sewaktu tinggal di Cibubur, gue sering mengunjungi sebuah tempat bernama Wisma Tuna Ganda Palsigunung, Cimanggis. Di sana, gue bisa bertemu teman-teman penyandang disabilitas ganda, baik fisik dan mental yang memiliki semangat hidup begitu kuat. Ada satu anak perempuan pengidap autisme sekaligus tuna rungu yang pernah buat gue terharu karena dia nggak mau salaman sama gue. Alasannya karena kuku gue panjang dan bagi dia itu kotor. Gue pun buru-buru potong kuku di halaman wisma tersebut. Gue dibikin terkagum-kagum dengan para pengurus wisma yang bisa membiasakan hal positif dari yang paling kecil sekalipun. Gue nggak bisa share foto-foto gue sendiri. Soalnya, waktu itu belum pake jilbab, euy! Hehehe.

Saya lupa namanya, lelaki berkaus merah dengan disabilitas ini
akan menemani pengunjung baru untuk berkeliling wisma
Seperti yang udah dilakuin selama ini oleh tim www.kartunet.id, dengan tulisan ini, gue harap dapat turut meningkatkan kesadaran masyarakat atas kesetaraan penyandang disabilitas. Melek teknologi, masih zaman tuh, diskriminasi?

Peningkatan kesadaran masyarakat, tentu bisa berimbas pada penambahan sarana dan sistem rehabilitasi bagi mereka. Dapat dimulai dari penambahan jalur-jalur khusus di berbagai tempat. Oh iya, saat penyiaran hasil Pemilu kemarin, stasiun televisi menyiarkan disertai dengan translator bahasa bagi mereka yang mengalami masalah pendengaran. Good job!

Selain disabilitas, terminologi yang sekarang acap kali digunakan adalah difabel atau different ability. Di mana artinya, mereka memiliki kemampuan berbeda dari orang pada umumnya. Pastinya pandangan ini jauh lebih baik, ketimbang menganggap mereka sebagai "orang cacat". Mungkin, mereka nggak punya kemampuan yang kita miliki. Tapi, bukan berarti kan, mereka hidup tanpa skill?

Besar harapan gue agar kemerdekaan kaum disabilitas bisa mereka raih. Memanusiakan manusia, nggak ada salahnya, kan? Sebab semua orang berhak akan eksistensinya. Semoga saja para penyandang disabilitas semakin giat berkarya, kemudian banyak dari mereka yang dikenal dunia. Kalopun tidak menjadi populer, dengan kegigihan hidup yang dimiliki, mereka bisa mengetuk hati orang-orang di lingkungan mereka sendiri. Dan pada akhirnya, selalu akan ada pengakuan bahwa disabilitas tanpa batas.



Pic source:
shaeofficial.com
http://www.army.mil/article/105883/US__TNI_AD_Soldiers_bring_Aloha_spirit_during_Garuda_Shield_13/
wikipedia.com

Another:

http://iq.intel.com/behind-scenes-intel-keeps-stephen-hawking-talking/
https://yudhabass.wordpress.com/2013/06/05/economic-model-of-disability/

You Might Also Like

30 comments

Comments
30 Comments
  1. Stephen Hawking Ahli fisika kalau ga salah, saya sudah lihat filmnya. Dan its Amazing. Gigih tak pernah menyerah, banyak jalan untuk berkarya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Suprisingly ya, semoga yang non-disabilitas juga banyak belajar darinya. Nggak mudah mengeluh dan terus berusaha^^

      Delete
  2. ya memanusiakan manusia tapi sayangnya teori economic disability si yang dipake
    tokohnya menginspirasi
    @guru5seni8

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi, social model of disability juga sudah banyak yang menggerakkan kok, Mbak. :)

      Delete
  3. Saya baru tahu bahwa ada ahli fisika yg seperti itu, ketinggalan informasi saya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Naaaah, bagus kan, jadinya tulisanku ada manfaatnya. Kalo Mas tau, malah aku nggak ngasi informasi baru buatmu :D

      Delete
  4. Setuju kali sama adek awak neh..
    Hmm, jadi terinspirasi buat tulisan yang sejenis ;)
    Still inspiring dear..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih akak awak...
      Ayo Kak, nulis juga >,<
      Semangat!

      Delete
  5. Saya gak pernah bosen nonton film "The Theory of Everything" tentang Stephen Howking. Ketika dokter menjelaskan resiko yang dia akan hadapi, dia hanya bilang "Apakah otak saya masih berfungsi?". Dukungan dari rekan dan keluarganya membuat dia bisa menjalani hidup yang panjang padahal sebelumnya hanya diprediksi 2 tahun. Saya sih yakin ketika suatu indra tidak berfungsi dengan baik pasti indra lain akan bekerja lebih baik. Mudah-mudahan Indonesia bisa lebih memperhatikan penyandang disabilitas

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sang Pencipta memang Mahaadil.
      Dan tidak ada nikmat-Nya satu pun yang dapat kita dustakan.

      I hope so. :)

      Delete
  6. Iiiih, kakak gemesssshhh deh, liat postingan ini. Kece, full wawasan, TOP deh. Makasi ya dedek shalihaaat :)

    bukanbocahbiasa(dot)com
    @nurulrahma

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Kak. Ter-ha-ru adek bacanya. :')

      Delete
  7. Nah ini lengkap artikelnya. Membuka wawasan :) Sudah seharusnya yang non-disabilitas lebih peka dan mengerti, bukan asal ngejudge.

    @gemaulani

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Gie sampe di-share FB. Semoga kita juga semakin terketuk hatinya untuk berbuat dan bergerak.

      Delete
  8. Stephen Hawking itu yang kisahnya difilmkan di Theory of Everything ya kalo gx salah, menginspirasi banget, tulisannya mbak juga keren banget, banyak info yang aku dapet...
    moga teman2 kita yang skarang masih dianggap sebelah mata bisa terus semangat dan menunjukkan bakat mereka @chikarein

    ReplyDelete
    Replies
    1. Meskipun tulisan ini belum maksimal karena masih kurang data, makasih ya. For sure, aku bahagia banget apresiasi sama apresiasi teman-teman LBI.

      Yap, kita juga harus berjuang di jalan masing-masing. :D

      Delete
  9. Ya, mereka bisa berkreasi dengan baik :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seperti judul tulisan ini, disabilitas tanpa batas :)

      Delete
  10. Cerita mengenai Penyandang Difabel dengan prestasi, saya jadi ingat anak dari guru saya yang memiliki gangguan pendengaran sehingga harus menggunakan alat bantu dengar dari dia kecil. Tapi nggak lama ini dia memenangkan sebuah lomba desain grafis yang diadakan di kota Malang. Jadi bisa menjadi bukti bahwa masing-masing penyandang difabel itu memiliki sesuatu spesial yang belum tentu dimiliki oleh non-difabel. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di satu sisi, mereka semakin terpacu untuk melampaui dinding yang tinggi, yaitu pandangan orang-orang. Satu hal yang jadi pelajaran adalah we can achieve anything when we push our limits.

      Delete
  11. Kalo boleh nambahin, ada Hellen Keller. Menginspirasi banget... =)

    @kening_lebar

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaap bener banget Mas. Bahkan story tentang beliau dikemas dalam berbagai bentuk.

      Delete
  12. Wah ada Beethoven juga ..
    Iyaa pernah denger sebagian besar karyanya lahir saat dia mulai terganggu pendengarannya (kalau ga salah sampe tuli yaa ??)

    yang jadi pertanyaan, gimana cara dia bedain nadanya yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dulu, aku juga sempat baca berita kalo ada pelukis yang tunanetra. Dan dia berhasil bikin lukisan fantastis karena dia memang nggak bisa melihat sempurna, tapi setiap warna menghasilkan spektrum yang bisa dia lihat dengan cara berbeda. Mungkin, itu juga yang dialami Beethoven di mana, nada-nada tersebut punya intonasi berbeda di pendengarannya.

      Delete
  13. Kemampuan berbeda tetapi hasilnya seringkali sama bahkan melampaui manusia normal pada umumnya

    @amma_chemist

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena mereka mau berperang melawan ketakutan hidup ^^

      Delete
  14. Bukti kalo nggak ada halangan untuk berkarya, mereka bisa, kita juga harus bisa :)

    @umimarfa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa jadi suntikan motivasi agar lebih bermanfaat lagi pastinya~

      Delete
  15. baru tau kalau Bethoven jg difabel...
    merasa malu pada diri sendiri kalau melihat mereka yg punya keterbatasan justru bisa melampaui kita yg seakan merasa sempurna.

    @Wawa_eN

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nobody is perfect. Dan itulah cara mereka menutupi segala kekurangannya. Semua mendapat porsinya masing-masing, kan?

      Delete