Pelan-pelan Saja

8:18:00 AM

Pelan-pelan saja
Pelan-pelan Saja - ! Diary Khansa: Jujur saja, aku sudah kian apatis menghadapi kehadiran sosok baru dalam hidup. People comes and go, begitulah realita yang ada. Namun, kamu datang begitu saja di saat aku ingin menata ulang pola pikir tentang kehadiran dan kepergian seseorang, memaksaku membuka kotak pandora yang harusnya sedang kusembunyikan di ruang bawah tanah.

Sebuah paksaan yang indah.

Benar adanya, semakin tau tentang sesuatu akan membuat manusia semakin takut. Antisipatif, memang begitulah adanya. Aku yang kerap bergaul dengan laki-laki dan sedikit banyak perspektifku seperti kaummu itu, bertambah takut dengan satu kata penuh retorika: CINTA. Bergidik ngeri aku dibuat sebab pandangan Mars dan Venus yang jauh berbeda.

Untuk apa cinta ada?

Cinta, satu kata yang tidak akan pernah ada habisnya untuk dibahas. Aku sedang tidak ingin mengulas tentang dia karena tanpa tulisanku, cinta akan baik-baik saja, menjelma kisah drama dalam tiap-tiap kepala yang ada di dunia.

Tapi, bagaimana jika aku jatuh cinta sama kamu?

Jatuh cinta harus siap dengan segala tanggung jawabnya. Kita akan berhadapan dengan kemerdekaan masing-masing; kamu dan isi kepalamu, aku dan isi kepalaku. Jatuh cinta bukan sekadar merasakan sengatan listrik saat bertemu, lalu jalan bergandengan untuk satu tujuan yang bisa saja disebut konsep bernama pacaran atau justru sebuah ikatan di atas pelaminan.

Jatuh cinta selayaknya diiringi keikhlasan; mempertahankan untuk terus ada dalam frekuensi yang sama. Sederhananya, sepasang kaki tidak mampu membuat seseorang berpindah dengan baik jika salah satunya diam. Pemilik kaki akan terseok-seok atau malah tersungkur ke tanah. Berbeda hal kalau memang kaki yang ada hanya satu.

Awal mula jatuh cinta mungkin sederhana, tapi menjadi rumit setelahnya. Akankah kamu mau menjadi berbeda untuk bersama? Bisakah aku mengimbangimu untuk bersama? Atau kita tetap yakin dengan ego masing-masing?

Ah, polemik cinta yang penuh politik.

Pelan-pelan saja mengenaliku, sekalipun yang kamu ingin hanya ilmu atau malah karena enggan sendirian. Pada akhirnya, cinta yang tau ke mana dia harus menitipkan hati. Pelan-pelan saja kita jalani. Toh, nantinya akan kita ketahui, bertahan atau pergi. Pelan-pelan saja dalam merindu. Kamu atau bukan kamu, semua sudah tertulis di lauhul mahfudz.


You Might Also Like

5 comments

Comments
5 Comments
  1. Dalem banget, Fun. Keren. Tapi bener kata lu, jalani saja, hanya waktu yg tau ke mana hati ini akan melangkah...

    ReplyDelete
    Replies
    1. tsaaah tsaaah... moga langgeng lu sama yang sekarang. terus, ngirimin gue invitation wedding deh :)

      Delete
  2. Memaknai cinta bukan hanya dengan perasaan, tapi dengan rasionalitas. keren kak ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. walaupun sebenarnya sulit untuk membatasi perasaan dan logika. butuh effort!
      :p

      Delete