Rahasia Koneksi Cepat dan Stabil

1:55:00 AM

Rahasia Koneksi Cepat dan Stabil - Teknologi: Generasi Millenial dan gadget, sepertinya adalah dua hal yang sulit dipisahkan, ya. Sejarah memang membuktikan bahwa kita adalah bagian dari generasi yang menjadikan teknologi sebagai lifestyle. Gadget yang barangkali begitu krusial sekarang, tak lain adalah mobile communication device. Kalo dulu ada lagu yang bilang bangun tidur kuterus mandi, kalo sekarang, sih, mungkin realitanya bangun tidur kuterus cek HP,  guys.


Kebutuhan akan komunikasi dua arah dengan waktu terbatas, jarak yang jauh, dan cost yang besar, merupakan rangkaian alasan umum mengapa perangkat mobile communication terus dikembangkan. Seiring perkembangannya, fitur-fitur mobile communication device terus diperkuat. Begitupula provider telekomunikasi yang berlomba-lomba menyediakan layanan cepat dan stabil. Hal tersebut menjadikan gadget sebagai media yang begitu populer dan membuat banyak orang bergantung pada gadget mereka. Satu perangkat mobile communication bisa menjadi begitu penting, menyimpan database besar di dalamnya, sesimpel pesan-pesan dari mantan gebetan di masa lalu—tolong, ini bukan curhat. Atau contoh yang mungkin aja rekan mahasiswa rasain, kalo males nyatet di kelas, tinggal jepret tulisan dosen atau teman dengan ponsel yang dilengkapi kamera resolusi tinggi.

Masih teringat jelas dalam benak gue, di akhir 90-an, HP dengan teknologi GSM (2G) yang baru booming, biasanya cuma dipakai buat bertelepon dan SMS-an. Coba lihat perbandingannya sekarang. Dengan jaringan 3G atau lebih dari itu, kita bisa nonton video-video lucu di Youtube dengan menggunakan layar jernih dan besar dari iPad.

Namun, yang namanya manusia emang nggak pernah puas, padahal pemuas kebutuhannya “terbatas”. Pasti ada, deh, di antara kita yang sering ngeluh gini, “Dih, ini SMS kok, nggak kekirim-kirim, sih!” Atau, ngomong asal, misalnya, “Eh, daripada pake provider C, mending si A aja! Itu kan, provider seluler pertama. Pasti koneksi internetnya lebih bagus daripada yang lain!” Somehow, ini adalah ucapan-ucapan yang kita lontarkan karena ketidaktahuan dari diri yang awam.

Buat SMS pacar yang sekota dengan operator yang sama aja, ternyata sistemnya cukup panjang, lho, guys. Data SMS dari HP lo bakal dikirim ke BTS (Base Transceiver Station) terdekat. Selanjutnya, ditransmisi ke BSC (Base Station Controller). Dari sana, dia masih harus jalan-jalan lagi ke MSC. Abis itu, dikirim lagi, deh, ke BSC dan BTS terdekat dari lokasi pacar lo itu. Inilah yang dinamakan sistem komunikasi bergerak seluler. Konon lagi, kalo yang LDR-an, baik beda pulau apalagi beda negara. Beh, jalur transmisinya lebih banyak lagi, men!

Sistem Komunikasi Bergerak Seluler

Belom pula kalo pacar lo beda operator. Atau bahkan, dia cuma punya telepon rumah. Lebih panjang lagi, deh, sistemnya! Bersyukurlah jomlo, lo nggak perlu mengutuk sinyal buat berkomunikasi dengan pacar karena lo nggak punya.

Buat memenuhi komunikasi yang real-time, para pakar terus meningkatkan teknologi dari generasi sebelumnya. Di saat 2G hadir dengan GPRS (General Packet Radio Service) yang memungkinkan kita mengirim e-mail dengan kecepatan 115 Kbps, kini bahkan bisa aja lo sedang menikmati koneksi 4G sekadar buat chatting-an dengan kecepatan hingga 100 Mbps. Whoos, time flies so flash bagi konsumen kayak gue. Kalo buat mereka yang mengembangkan, sih, gue yakin itu proses yang lama, menguras tenaga dan air mata.

Firman AJ, Manager Management Service XL Regional Sumatera menuturkan kalo ada tiga faktor utama yang mempengaruhi sinyal ataupun kecepatan akses internet. Yang pertama, tentunya quality dari teknologi yang disediakan oleh provider itu sendiri. Alokasi frekuensi yang didapetin, menentukan bandwith maksimumnya. Yang kedua adalah capacity. Satu BTS memiliki batasan jumlah perangkat yang menerima sinyal. Kalo jumlah pengguna yang aktif bersamaan begitu besar di area yang sama, tentunya kapasitas masing-masing akan berkurang. Itulah hal yang terkadang ngebuat gue berkata, “Lemot banget, sih, padahal cuma buka Google aja.” Yang terakhir yaitu coverage. Semakin dekat dengan BTS, semakin cepat pula sinyal ditangkap. Nah, semakin cepat juga, deh, proses nge-stalk Instagram gebetan.

Stalking Mantan Pacar
Scroll, scroll, and scroll again....
Apesnya, pemadaman listrik kerap terjadi. Ini ngebuat jaringan akan down dalam hitungan detik, padahal MSC itu benar-benar ketergantungan dengan namanya listrik. Contohnya aja di MSC XL Tanjung Morawa. Ketika PLN memutus arus atau ada gangguan, listrik secara otomatis dialihkan ke baterai. Nah, butuh waktu untuk mengaktifkan genset yang ada di MSC tersebut. Makanya, guys, yang sabar aja kalo lagi update location Path terus delay. Penggunanya nggak cuma kita, tapi berjuta-juta. Nggak perlu marah-marahin operator di telepon atau bahkan lewat akun Twitter.


Mobile Switching Center
Salah satu bilik di MSC XL Tanjung Morawa yang penuh kabel (Dok. Aldi)
Kadang kita menyepelekan sesuatu karena nggak tau apa yang ada di baliknya. Dan inilah sedikit dari rahasia di balik koneksi cepat dan stabil yang kita nikmati setiap hari. Ternyata rumit banget, Bro! Untuk gue pribadi, mengkritik yang baik adalah dengan membuat yang lebih baik. Selagi gue nggak bisa ngebuat sinyal yang lebih berkualitas, males, deh, buat mencela teknologi dari provider yang udah ada.

Udah sepantesnya kita sebagai users menggunakan fasilitas ini semaksimal mungkin. Kecepatan akses internet dipake buat browsing dan memperkaya wawasan, good people. Nggak cuma buka Facebook atau curhat di status BBM. The more you read, the more things you know. The more that you learn, the more places you'll go. Contohnya dengan lo ngebaca blog gue ini—oke, promosi terselubung.

Old saying: think before speak. And now saying is Google before post. Hahaha, it's not that we use technology, but we live technology. Is it true? How about your thoughts, dear?








Postingan ini dihasilkan setelah mengikuti 
Jelajah Cepat XL Network Building pada 15 Agustus 2015
Gue yang mane, nih? Tau kagak lo? (Dok. Aldi)



Another pic source: Pixabay

You Might Also Like

20 comments

Comments
20 Comments
  1. Replies
    1. Makasih. Aku emang cakep kok. #lah :">

      Delete
  2. Naaaaiiiis infooo kak! (nggak ada ide buat komen yang lain gara gara udah lama gak komen di blog orang-lahmalahcurhat-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini kembaliannya, Nak *salamin gopekan*

      Delete
  3. Mau berebut hati kamu aja boleh gak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Silakan ambil nomor antreannya, Mas.

      Delete
  4. Replies
    1. Beda operator masih nggak masalah, gimana ceritanya kalo beda alam? :(

      Delete
    2. yang satu di alam medan, yang satu di alam tembung gitu?

      Delete
  5. Suka liat picture-nya 😀 *gagalfokus

    ReplyDelete
    Replies
    1. berarti selera aku yang bagus ya? #pongah

      Delete
  6. rahasia di balik hati abang itu ada nggak ya :D
    *gagalfokusjuga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kak Diah... Mau Abang yang mana nih? :p

      Delete
  7. Ooo gitu yaaa... ntr ngak ngedumel lg dung kalau pas lg lola

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mama ituuu yang suka ngedumel kalo lagi lihat tutorial hijab di Youtube

      Delete
  8. Kece nih, infonya. Tapi, pembangunan BTS diwilayah pemukiman padat penduduk juga perlu diperhatikan oleh pihak provider. Bukankah akan banyak dampaknya bagi penduduk? Radiasi?

    ReplyDelete
    Replies
    1. BTS beda sama SUTET. Kalopun ada radiasi gelombang elektromagnetik dari BTS, itu sangat jauh di bawah normal dari batas yang ditetapkan WHO. Radiasinya sebelum sampai ke tanah, sudah hilang radiasinya, kira2 begitu.

      Delete
  9. Jadi ini rahasianya. Terima kasih kk sudah bagi informasi. Salam kenal dan salam hangat dari penikmat hujan. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam hangat dari pecinta hujan :p

      Delete