10 Jurus Jitu Menjadi Teman yang Baik yang Mungkin Sering Terlupakan

11:35:00 PM

10 Jurus Jitu Menjadi Teman yang Baik yang Mungkin Sering Terlupakan - Hubungan: Penginnya dibaik-baikin, sendirinya belom belajar jadi temen yang baik. Gimana mau dapet jodoh yang baik, jadi temen yang baik aja belom bisa.... *dikit-dikit ngomongin jodoh, hiiih*


Sadar diri dong, kita nggak bisa hidup sendiri di dunia ini. Walaupun ujung-ujungnya ntar di dalem kubur sendirian, tetep aja hidupnya kudu punya partner! Elo bukan Hachi si lebah madu yang sebatang kara. Bahkan, doi aja punya temen baik selama perjalanan hidup mencari ibunya. *kemudian nyanyi...*



Dosen gue pernah bilang,”Satu-satunya cara mendapatkan teman yang baik adalah menjadi teman yang baik.” Kali pertama ngedenger kalimat itu, gue langsung jawab, “Ya iyalah masa ya iya dong, duren aja dibelah bukan dibedong!” Gue kesel sama analogi dosen tersebut. Tapi, lama kelamaan gue sadar, kalo manusia emang sering ngelupain analogi sederhana seperti itu dan cenderung menjadi semakin arogan. Ya…, kayak gue ini mungkin.



Setelah mencari hidayah ke lembah Teletubbies dan menyelam ke Bikini Bottom, akhirnya gue ketemu Tom Sam Cong yang ngasi gue “10 Jurus Jitu Menjadi Teman yang Baik yang Mungkin Sering Terlupakan”. Tentunya, ini bisa dipraktikkan dalam kehidupan adik-adik dalam menciptakan keharmonisan perjalanan hidup penuh cinta dan kasih sayang yang terhindar ironi serta penindasan-penindasan hegemoni cinta terhadap hati. *kalimat ini dihasilkan saat gue meeting sama Tom Sang Cong, lalu tiba-tiba ada Vicky Prasetyo, yaudahlah ya....*

1. Memuridkan Diri Sendiri

Orang lain lagi ngomongin suatu hal, kita langsung nimpalin ba-bi-bu. Terkadang, sampai-sampai opini kita ngebuat orang tersebut ngerasa minder. Ya, itulah manusia yang penuh dengan ego. Kerap kali seseorang ingin menunjukkan identitas dan eksistensinya dengan terlihat lebih dari orang lain. Padahal, di atas langit masih ada langit. Jadi kenapa harus sombong? Toh, kita ini bukan yang terbaik, kan? Memuridkan diri sendiri membuat kita menyadari kalo kita bukanlah apa-apa. Dengan kayak gitu, kita bakal ngerasa kalo dengerin orang lain adalah sebuah kebutuhan. Semakin banyak mendengar, semakin banyak tau juga.

2. Hindari Kritik

                Kritik itu seperti merpati pos; ia akan selalu kembali pulang. Artinya, kritik kita akan kembali kepada diri kita sendiri. Emang kita udah siap kalo dikritik orang lain? Mungkin, sekarang lo bakal jawab iya. Tapi, pas kejadiannya, hati kecil lo bakal defensif sendiri dan tanpa dikomando, otak lo langsung mencari-cari celah dari si pengkritik. Melalui kritik, sebenernya kita nggak ngebuat perubahan yang awet, justru yang hadir adalah penolakan dan kebencian. Seorang psikolog besar bernama Hans Selye pernah bilang, “Kehausan kita akan persetujuan, sama besarnya dengan ketakutan kita terhadap kritik.” Begitulah sifat manusia, yang bersalah menyalahkan orang lain. Kita semua seperti itu. Perlu kontrol diri untuk mengerti dan meminta maaf.

3. Bicarakan Kebodohan Diri Sendiri Sebelum Mengritik

                Pernah nonton Stand Up Comedy? Begitu banyak realita sarat makna di sana yang disajikan dalam bentuk jokes. Kemudian, ngebuat gue menganggukkan kepala sambil bilang, “Iya juga, ya….” Di saat itu, sang komedian telah sukses nyadarin kalo gue masih jauh dari sempurna tanpa harus mengkritik gue secara langsung.
                Kemampuan kayak gitu patut diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, lho. Di saat lo diharuskan mengkritik seorang teman, lo bisa mencontohkan kebodohan lo di masa lalu saat menghadapi masalah yang sama, saat berada di posisi yang selevel. “Gue dulu nggak bisa ini itu kayak lo sekarang ini. Bego ya, gue? Nah, lo tuh, lebih dari gue di masa itu. Coba deh, lakuin hal yang ini juga… Atau yang itu. Pasti bakal lebih yahud lagi!”

4. Hindari Debat

Satu-satunya cara dapet manfaat sepenuhnya dari perdebatan adalah menghindarinya. Seseorang yang “diyakinkan” buat nentang kehendaknya, bakalan makin megang teguh pendapatnya. Ujungnya, siapapun yang tampak menang, kita akan tetap kalah sebab yang didapet cuma kesia-siaan.

5. Buat Orang Lain Merasa Penting dan Lakukan Itu dengan Tulus

Coba deh, luangin waktu sejenak untuk mikirin apa hal-hal positif yang dimiliki orang lain. Gue sendiri sering mengakui kelebihan temen-temen di sekitar gue. Sesederhana karena dia cantik, gue bakal bilang, “Ih, gue punya temen cantik kayak lo. Seneng, deh!” Gue yakin walaupun bakal dibilang gombal atau apalah, selagi lo bilang dengan tulus, orang tersebut bakalan seneng. Bicaralah dengan orang lain tentang diri mereka, bisa dipastikan mereka akan mampu mendengarkan berjam-jam.

6. Biarkan Orang Lain Menikmati Rasa Bangganya

Ketika kita mengakui kehebatan orang lain, ada rasa bangga terbesit di hati mereka. Biarkan mereka nikmatin itu. Rasa bangga bisa jadi motivasi bagi seseorang untuk berbuat lebih baik lagi. Kita pun bisa mendapat respons yang baik karena dianggap bisa ngertiin mereka. Daripada nyela dengan perkataan, “Aku juga pernah kayak gitu” akan lebih bijak kalo lo menimpalinya dengan, “Eh, hebat kamu! Terus, gimana ceritanya?” Pada dasarnya, semua orang senang untuk didengarkan dan diperhatikan.

7. Lebih Banyak “Pertanyaan” daripada “Perintah”

Siapa sih, yang suka disuruh-suruh? Bahkan, di saat lo adalah bawahan yang digaji sekalipun, perasaan enggan ketika diperintah akan muncul. So, nggak ada alesan kan, buat memerintah orang lain padahal berpeluang melukai harga dirinya? Daripada harus menggunakan kata “kerjakan” atau “jangan begitu”, coba beri mereka lebih banyak pertanyaan. Misalnya, “Gimana, ya, kalo caranya begini? Bisa lebih baikkah?”

8. Belajar Menjadi Antropolog

                Tertarik dengan cara berpikir orang lain adalah menilai orang lain dengan cara yang penuh cinta dan kasih. Gimana enggak, lo ngeluangin waktu buat mendengarkan seseorang agar lo bisa memahami cara berpikirnya tanpa mendikte dan menilainya dari awal. Kalo diem-diem kita ngerasa cara berpikir kitalah yang benar, ingatlah selalu hanya ada batas tipiiiis sekali antara arogan dan tertarik. Tertarik bukan berarti setuju. Nikmati kebebasan yang ada di pikiran kita sendiri!

9. Perbesar Rasa Peduli

                Dari Zoroaster hingga Lao-Tse pernah mengatakan, “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah itu juga kepada orang lain.” Peduli itu bukan hanya sekadar simpati melainkan juga empati. Butuh niat dan tindakan. Dengan memperbesar kepedulian, lo udah usaha buat nempatin diri pada posisi orang lain. Membayangkan perasaan yang dialaminya atau bahkan bagaimana frustasinya dia. Hal ini akan ngebuat kita bersyukur dan memikirkan sejenak hal-hal kecil yang begitu ajaib. Ya, mungkin salah satunya adalah membaca blog ini. #ahzek

10. Berdamailah dengan Ketidaksempurnaan

                Nobody is perfect. Kayaknya, semua orang tau hal itu. Namun, tetep aja situasi tertentu ngebuat kita nuntut yang namanya kesempurnaan tanpa berkaca pada diri sendiri. Sadarilah, ketidaksempurnaan adalah alasan kestabilan dunia. Bayangin kalo semua orang kaya, pintar, dan baik, gimana bisa saling melengkapi? Apakah akan ada regenerasi? Siapa yang bakal jadi atasan dan bawahan?
Itulah 10 jurus jitu menjadi teman yang baik yang mungkin sering terlupakan versi gue. Oh iya, ada tiga kata ajaib yang juga sering dianggap remeh yaitu terima kasih, tolong, dan maaf. Latih yuk, diri kita buat lebih peka terhadap orang lain. Masih banyak sih, jurus-jurus lainnya. Apa lo punya jurus juga? Share, yuk di sini sama gue!

"Orang harus diberi pelajaran dengan cara seolah-olah Anda tidak mengajarinya dan hal-hal yang tidak diketahui diajukan sebagai hal-hal yang terlupa."- Alexander Pope
"Kita tidak bisa mengajarkan apa pun pada seseorang; kita hanya bisa membantu menemukannya sendiri dalam dirinya."- Galileo
Referensi:
Carnegie, Dale. 1981. How to Win Friends and Influence People. New Jersey: Prentice-Hall

You Might Also Like

17 comments

Comments
17 Comments
  1. Poin 6 itu kadang bikin ngeselin, Fan. Kadang kitanya berusaha ngerendahin hati yak, eh si dianya malah ningginya menjadi-jadi >_<"

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya itulah, latihan sabar yang "sekolahnya" setiap hari :D

      Delete
  2. aku suka no 4 hindari debat

    ReplyDelete
  3. Duh, gue jadi sadar sesadar-sadarnya. Gue juga pernah ngalamin nomer 2. Pernah ngeritik orang dan akhirnya kembali ke diri gue. Malu banget ngebacanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terkadang kita sadar melihat orang lain :D

      Delete
  4. poin "Sadarilah, ketidaksempurnaan adalah alasan kestabilan dunia" super sekali, fun~
    Gue juga masih banyak nggak baiknya, jailnya, jahatnya. daripada salah, gue jadinya banyak diem ( . .)/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada benernye ye, diem itu emas. Coba banyak-banyak diem ngasilin emas beneran.... \( '.')/

      Delete
  5. senang sekali berkunjung ke page ini, sangat berwawasan namun renyah ringan... good job funy

    ReplyDelete
  6. kak oot nih, aku mau tanya tentang design blog kaka boleh?

    ReplyDelete
  7. Wahhhh,, ntar ane terapin dahh,, biar bisa jadi orang baik n teman baik,, :)

    ReplyDelete
  8. belajar jadi antropolog, susah yaa, mau beteman aja harus kuliah antropolog dulu :(

    ReplyDelete
  9. pada point nomer 4 biasa terjadi pada pertemanan... nice posting ya kak terima kasih

    ReplyDelete
  10. berdamai dengan ketidaksempurnaan adalah hal wajib agar hubungan tetap harmonis. Ya, artinya saling menghargai bagaimana pun keadaanya, asal jangan kelewatan aja. Yok, funny, jadi teman baikku. kapan kita meet up? :/

    ReplyDelete