Tersendat-sendat

2:53:00 AM

Tersendat-sendat - Flash Fiction: Jalur itu kita lalui lagi, jalan lengang di sebrang rel kereta. Serentak dengan kenangan yang meruak. Visualisasi rasa dalam akal budimu menyembul kembali. Apapun itu, fluktuasi emosi tak bisa kau tutupi. Jangan berbohong, Sayang, kataku dalam hati.

Kekeruhan mengepung batin dan raga. Katamu, "Tak apa, aku baik-baik saja." Bagaimana aku bisa percaya? Laksana cahaya, bayangan tentangnya begitu cepat kau tangkap.

Kau buatku termengah-mengah menelusuri labirin; celah-celah memori. Kau genggam tanganku, lebih erat lagi. Bukan kehangatan, melainkan hampa. Resonansi kerinduan? Sipongang kehilangan? Atau lentingan kenangan? Boleh jadi. Kuharap waktu tak membelenggu. 

Kucubit perutmu sekali lagi, berharap membentak sunyi. Ingin kau menyadari, aku masih di sini. Menyiapkan sebuah lengan untukmu. 

Ini bukan cemburu yang berdesing. Namun, seseorang yang berhasrat menjadi hujan. Menyatu beriring tangismu. Melenyapkan bekas di pipimu. Menjelma ceriamu belakangan.

Dengan kelembutan, kubelai kepalamu yang penuh akar menjalar. Dekaplah aku, sehingga tak ada lagi ngarai yang mengasingkan. 


You Might Also Like

5 comments

Comments
5 Comments
  1. mantep kak (Y), jadi merinding dengernya heheh.

    ReplyDelete
  2. kata-katanya manis banget mbak. "Ini bukan cemburu yang berdesing. Namun, seseorang yang berhasrat menjadi hujan. Menyatu beriring tangismu. Melenyapkan bekas di pipimu." :)

    ReplyDelete
  3. Bagus euy. :)) anyway, Sipongang artinya apa ya?

    ReplyDelete