Ini Bukan Tentang Berbicara

11:44:00 AM

Ini Bukan Tentang Berbicara - ! Diary Khansa:

Membacalah jika ingin menulis.
Mendengarlah jika ingin berbicara.

Mungkin, kamu acap kali mendengar patah seperti itu, aku pun begitu.  Tapi, haruskah kita selalu mendengarkan apa-apa yang dikatakan orang lain tentang kita? Haruskah kita selalu menanggapi kata tanpa makna? Haruskah kita menjadi baik di hadapan mereka-mereka yang bahkan tidak membuat kita merasa baik?


Aku selalu bertanya tentang arti kebebasan. Dan selalu terbentur pada kebebasan yang bertanggung jawab. Apa aku mengidap paranoia? Yang berkhayal untuk bebas melakukan apa saja. Realitanya, sih, aku bebas melakukan apapun, dalam pikiran dan hati milikku sendiri. 

Semua bergerak, semua berubah. Seiring waktu. Semakin hari semakin moderen. Semakin hari semakin dinamis. Dan semua bergerak cepat. Secepat mereka-mereka yang memberi label pada diri kita. Pasti kamu pernah diberi label seperti itu. Ah, aku pun baru saja memberi label padamu. Mudah, cepat.

Suka ataupun tidak suka, kamu dan aku mendengarnya. Mendengar label-label dari mereka. Mendengar tawa-tawa yang menguar di ruang waktu. 

Kata mereka, aku adalah orang yang konyol dan tidak bisa diajak serius. Selang beberapa waktu, kata mereka, aku terlalu serius menghadapi hidup. Kontradiktif. Pernyataan yang mungkin dikatakan bagi mereka yang belum mengenal. Tahu dan kenal itu berbeda. Padahal, dalam otakku, aku pun menertawai keseriusan mereka menanggapiku. Betapa konyolnya mereka di pikirku. 

Aku selalu suka mendengar. Dan malas berbicara, ketika mereka hanya bisa menghakimiku dan pemikiranku. Mereka mendengarkanku seakan perkataanku hanya selingan di antara obrolan. Padahal, aku meluangkan waktu untuk mendengarkan mereka, yang kerap kali hanya antologi tak berguna. Aku masih bertanya. Tapi, setidaknya aku menemukan satu jawaban, bahwa kebebasan adalah kemampuan mengontrol. Mengendalikan diriku sendiri tanpa memegang kendali yang bukan diri.

Mungkin, kamu menginterpretasikan ini berbeda. Mungkin. Pun jika sama, percayalah, aku bukan kamu, kamu bukan aku.

You Might Also Like

2 comments

Comments
2 Comments
  1. Deal. Kita tidak akan sepenuhnya bisa memahami seseorang, sebagaimana seseorang tidak akan pernah memahami kita sepenuhnya. Sepintar apa pun mereka. Bisanya hanya mengintepretasikan (kalau tulisannya benar), mengira, mungkin menghakimi, tapi tidak pernah benar-benar paham. Dan bahkan karakter seseorang pun sering "Semua bergerak, semua berubah." Just like the world.

    "Aku bukan kamu, kamu bukan aku."

    I like this one. :)

    ReplyDelete
  2. AAAAKKKK aku dikomenin kak araaaa :'(
    udah lama nggak ngeblog nih, jadi banyak kegusaran-kegusaran yang ingin aku angkat.
    Dan pastinya aku hadir dengan bahasa dan bahasan yang berbeda.

    Iya, sejatinya, kita, aku dan kamu, tidak sama. Sejatinya.

    ReplyDelete