Hei, Dim

1:25:00 AM

Hei, Dim - ! Diary Khansa: Kalau kamu belum mengerti metamorfosis, kamu harus berkenalan dengan lelaki satu ini, Adimas Immanuel. Dimas, begitu ia biasa disapa. Seorang lelaki jenaka yang selalu memiliki makna dalam setiap kata-katanya. Aku selalu meledek kumisnya yang menurutku awur-awuran. Namun, hal itu tidak pernah membuat percaya dirinya berkurang.

Dia adalah seorang teman yang baru kukenal satu bulan belakangan. Belum lama memang, tapi itu sudah membubuhkan goresan baru dalam catatan hidupku. Impresi pertama mengatakan dia adalah orang yang ceria dibalik wajah seriusnya. Dan ternyata, itu benar, setidaknya buatku. Aku sempat takut melihat kumisnya. Sampai akhirnya, kumis itu tampak lucu ketika ia tertawa. Belum lagi ia sempat memamerkan foto-fotonya terdahulu, saat gaya emo sangat populer di kalangan kawula muda.



Aku masih mengingat beberapa momen yang aku lewati bersama Dimas. Pertemuan di JBF 2014, Dimas mengenakan setelan kemeja lengan panjang dan celana kain lengkap dengan sepatu pantofel hitam. Selanjutnya, pertemuan di kantor tentunya. Saat makan siang, kami menyantap ayam bakar di dekat kantor bersama Syafial, Edo, dan Om Em. Saat seorang penulis bernama Dara Prayoga datang ke kantor, Dimas tampak serius dengan laptopnya duduk di kursi kayu. Saat pembuatan video arisan buku terakhir, aku, Dimas, Any, Bayu, dan Edo nampang di video tersebut. Dan yang paling aku ingat adalah ketika Dimas membacakan puisi sahabatnya di sebuah acara malam itu. Oh ya, ada lagi, sih, yang kuingat, saat Dimas menunggu Edo dini hari karena ia dijanjikan untuk berangkat ke Bandung saat sahur. Dia seperti anak hilang yang sudah siap-siap meringkuk di pos ronda. Hihi.

Sebagai sesama ‘tamu’ di Jakarta, aku selalu merasa dia senasib denganku. Aku merasakan hal yang sama, aku belum menjadikan Jakarta sebagai rumah. Belum lagi, sifat tidak enakannya yang kadang kupikir persis denganku. Aku selalu merasa sungkan ketika merepotkan seseorang di Jakarta. Ah, hanya mirip, belum tentu sama.

Dimas memang sering berbagi soal kehidupan. Bukan soal pribadi, tapi lebih pada bagaimana ia memandang hidup. Darinya, aku belajar perspektif lain. Kecerdasan dalam kesederhanaan. Seringkali, seseorang merasa atau dianggap cerdas ketika ia mengetahui banyak hal baru nan kekinian. Namun, dari Dimas aku memahami, bahwa hal-hal kecil yang sering kita lewati sehari-hari pun bisa menjadi ilmu lagi pengetahuan.

Dimas mencintai puisi. Ah, lebih tepatnya, ia mencintai seni. Hanya saja, kemampuan bermusiknya terbatas. Oleh karena itu, dia lebih sering terlihat menjadi atlet puisi, memainkan kata-kata dan menjadikannya barisan penuh makna. Lewat dua buku, ia sedikit banyak berbagi antologi puisi.

Buku solo pertama seorang Adimas Immanuel
Hei, Dim, Aku belum bisa mendoakanmu dengan apa-apa yang kamu inginkan. Ya, kita belum lama saling mengenal. Kita belum pernah bercerita tentang impian. Kita belum pernah meributkan soal masa depan. Maaf, sedikit sekali yang aku tahu tentangmu.

Hei, Dim, maafin aku, ya, kalau saja, selama satu bulan ini memiliki kesalahan-kesalahan. Kamu cukup berbesar hati, kan, memaafkannya?

Hei, Dim, setiap pertemuan, pasti ada perpisahan. Kelak, ketika kita tidak lagi berteduh di satu tempat, aku harap, kamu masih mengingatku sebagai teman. Tidak, aku tidak muluk-muluk ingin dikenang. Hanya ingin diingat saja, kali-kali kamu mendengar atau melihat tentangku.

Hei, Dim, aku hanya bisa mengingatkan. Teguh dan terus pegang prinsip hidupmu. Hidup di Jakarta memang keras. Dan akan menjadi lebih keras ketika kamu tidak memiliki pegangan hidup dalam berjuang di sini.

Hei, Dim, apapun yang kamu inginkan, aku hanya bisa berharap, semoga kamu mendapat apa-apa yang terbaik untukmu. Tuhan tidak pernah salah memberi atau mengambil. Selalu menjadi Dimas yang menyenangkan, ya.


Tulisanku memang sederhana, ini satu-satunya cara untuk aku mengungkap rasa. Ya, aku tidak pintar berbicara. Selamat menua, teman. Selamat berbahagia, hari ini, esok, dan seterusnya.

_______________________________________________________________________________

Untuk : @adimasnuel

You Might Also Like

3 comments

Comments
3 Comments
  1. Gua kira cowo baru lu, Fun...ternyata...hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku yang dulu bukanlah yang sekarang~~ *nyanyi*

      Delete
  2. So sweet, kak :)
    Btw, lama gag kunjung ke sini, blog dan authornya metamorfosis ya, jadi pangling :3

    ReplyDelete