Social Media: Akankah Menjadi 'Noda'?

3:53:00 AM

Social Media, Akankah Menjadi 'Noda'? - Lomba Blog: Akhir-akhir ini, perkembangan teknologi melaju seperti pelana kuda, begitu cepat dan signifikan. Percaya atau tidak, peran teknologi yang tadinya hanya sebagai kebutuhan tersier, kini telah naik tahta menjadi kebutuhan sekunder, dimana banyak orang yang menggunakan teknologi dalam kesehariannya demi kelancaran aktivitas mereka.

Berbicara soal perkembangan teknologi, ternyata internet telah mengubah pola penyebaran informasi, dari broadcast media monologue (satu ke banyak orang)  menjadi social media monologue (banyak orang ke banyak orang).  Ini ditandai sejak hadirnya Friendster dan My Space, dilanjutkan pula dengan suksesnya Facebook dan Twitter.  Semua orang dapat berinteraksi satu sama lain hanya dengan koneksi internet. Kecanggihan yang ditawarkan begitu bebas. Ngakses apapun yang lo mau, kapanpun lo mau, dari siapapun lo mau, dan dimanapun lo mau.
Ketika Google mengetahui 'segalanya'
Coba lihat siswa/i SMP belakangan ini, jika ada tugas membuat artikel, mereka hanya perlu browsing di internet, lalu tinggal buat ulasannya. Tak sedikit pula, yang malas dan hanya meng-copy-paste artikel tersebut dari internet. Lirik juga siswa/i SMA masa kini, banyak diantara mereka yang tergabung dalam grup Facebook yang membahas mengenai soal-soal SNMPTN. Bukankah itu baik? Tapi, banyak juga diantara mereka yang menggunakan Facebook hanya sekedar untuk chatting.

Lalu, mengapa ada pro dan kontra pada dua contoh diatas? Ini patut dan sungguh menarik untuk disimak. Mungkin pertanyaan diatas akan lebih menarik jika saya balas dengan pertanyaan lagi. Sadarkah kalian, seringkali teknologi membuat kita menjadi dangkal kreativitas? Lalu, pernahkah juga kalian merasa chatting dan bermain game di Facebook membuat kalian malas belajar?

Sungguh sulit untuk dijawab bukan? Nah, disini saya ingin sekali memaparkan sedikituneg-uneg” saya. Menurut saya, kemudahan yang ditawarkan teknologi, khususnya internet dan  social media, dapat menjadi bumerang bagi penggunanya sendiri. Tapi, jangan berpikir bahwa saya menentang kemajuan teknologi. Saya bukanlah seorang yang konvensional.
Social media sebagai media belajar sumber gambar : kiwicommons
Didukung perkembangan TIK yang semakin canggih, banyak sekali hal yang dapat kita lakukan. Mengadakan kelas virtual adalah salah satu cara untuk memanfaatkan social media ke arah yang positif. Menerapkan e-learning dan mempermudah sistem administrasi, kedua hal ini juga dapat dilakukan. Namun sayang, hal ini masih menjadi wacana untuk dasar pendidikan sekolah di Indonesia. Sedangkan di tingkat perguruan tinggi, banyak yang mulai berani menerapkan teknologi sebagai roda pengggerak dari sistem kampus itu sendiri.

Berhubung saya sendiri sangat tertarik dalam perkembangan TIK, saya juga membuat kuisioner online dengan tema “Pengaruh Social Media terhadap Pendidikan”. Mungkin bisa dilihat langsung disini. Peserta survey ini terdiri dari rentang pendidikan SD hingga perguruan tinggi. Tak dapat dipungkiri, social media memang dapat menunjang pendidikan sekaligus berpotensi memperburuk proses belajar. Mari kita sama-sama melihat hasil survey ini.
Hasil survey "Pengaruh social media terhadap pendidikan"
Ada pepatah yang mengatakan “Semua akan indah pada waktunya”, hal ini berlaku pada teknologi dan social media. Yang tua lebih membutuhkan media ini ketimbang yang lebih muda. Bukannya apa-apa, saya merasa kita juga harus “sedikit” membatasi atau setidaknya menjadi tameng atas pergaulan anak-anak  dengan teknologi, karena pengawasan orang tua serta guru sangatlah berpengaruh. Orangtua dan guru pun harus lebih mengenal teknologi dan social media bukan semata-mata agar tidak ketinggalan jaman, tapi demi masa depan anak-anak itu sendiri. Hal ini membutuhkan perhatian khusus, seperti pelatihan dan seminar untuk guru-guru. Contohnya hal yang diterapkan dalam program Intel Teach.

Sejatinya hal ini agak sulit, mengingat anak-anak di Indonesia terlalu cepat menyerap informasi, bahkan seringkali terprovokasi. Banyak juga yang tidak selektif dan kurang bimbingan orang tua. Sebagai generasi muda, saya selalu mencoba menanamkan pada diri sendiri sebelum mendikte orang lain tentang peran teknologi dan social media dalam dunia edukasi. Satu harapan saya, semoga kelak masing-masing individu di Indonesia semakin pintar  dalam menerima informasi. Jangan sampai potensi buruk yang saya sebutkan diatas terjadi. Sepatah kata terakhir,  kita layaknya putih yang tak ternoda, sekali tergores warna social media, akan sulit menjadikannya kembali sempurna. Be smart, guys!

You Might Also Like

17 comments

Comments
17 Comments
  1. Yap! always wish the best for ya :) Aku harus komen apa lagi yah? :P

    ReplyDelete
  2. bener banget nih pun,sekarang anak SD aja udah bisa maen internet,padahal,mereka ga butuh butuh banget -,-

    ReplyDelete
  3. Ada sisi positif dan ada sisi negatif dari suatu hal.. Media sosial juga.. Akan berdampak positif jika digunakan secara bijak dan benar, sebaliknya akan berdampak negatif jika disalahgunakan. Nice post fun. sukses ya. :)

    ReplyDelete
  4. Ya memang benar anak-anak khususnya umur remaja ke bawah mudah sekali menyerap informasi dengan filter yang minim. Ini mengapa perlunya pendidikan etika berteknologi agar mereka lebih bijak menggunakan teknologi :)

    nice post!

    Tekno muslim

    ReplyDelete
  5. Kalo anak SD yang masih ababil make internet sendirian.. entah apa yang dia buka itu ._.

    ReplyDelete
  6. Kemudahan informasi di internet itu bagai dua mata pisau, dapat menguntungkan sekaligus merugikan. Kalau untuk anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah tampaknya masih butuh bimbingan dari orang yang lebih tua atau pengalaman (karena kejam sekali jika semua dibebankan kepada orang tua, meski pun itu juga merupakan tanggung jawab mereka), sedangkan kepada yang sudah 'dewasa', dalam hal ini para mahasiswa sudah harus bisa memilah-milah apa-apa saja yang dapat bermanfaat dari internet bagi mereka.

    ReplyDelete
  7. Dari survey di atas mungkin kita harus melakukan pembatasan umur, anak SMP ke bawah belom saatnya maen social media ;p

    ReplyDelete
  8. Wah itu yang survey anak SD waw banget yah, pengaruh buruknya lebih banyak. Mungkin mereka ngegunain socmed cuma sekedar main game aja (?). Itu bisa jadi karena mereka belum ngerti juga kali yah....

    Postingannya bagus nih :D

    ReplyDelete
  9. Postingannya bagus :)
    Gue setuju banget kalo setiap hal yang ada di dunia ini pasti ada nilai plus dan minusnya, termasuk teknologi/social media. Semuanya balik lagi ke diri kita sendiri, bagaimana dan untuk tujuan apa kita menggunakan dan memanfaatkan teknologi/social media tersebut.

    ReplyDelete
  10. mgkn musti mulai diberlakukan pembatasan umur utk penggunaan social media hehhe...tp kenyataannya malah adikku sndri yg SMA kga punya pesbuk atau sejenisnya wkwkwk

    nice post pun ;)

    ReplyDelete
  11. ini kan udah masuk era globalisasi.. jadi nggak anak SD, gak orang tua.. semua udah membutuhkan INTERNET. :D

    ReplyDelete
  12. menurutku gak ada masalah kalo anak kecil mau bsa pake internet, tapi mereka hrus di awasi biar penggunaan teknologi buat mereka itu biar baik untuk ke depannya tp gak merusak...
    klo remaja emang hrus pinter2 make aja, dan gak boleh kejebak sama keasikan doang yang bikin ketagihan tp gak menghasilkan apa apa..

    salam kenal funy ^^

    ReplyDelete
  13. kunjungan gan.,.
    bagi" motivasi.,.
    hilangkan rasa gengsi mu untuk maju lebih baik.,.
    di tunggu kunjungan balik.na gan.,.,

    ReplyDelete
  14. wooo.. nice info gan..
    Tapi djaman sekarang ortu juga banyak yang doyan internetan...

    ReplyDelete
  15. Yup, semua selalu ada negatif dan positifnya, tapi untuk anak dibawah umur, peran orang tua itu yang bener dibutuhkan, jangan sampe jadi korban pelecehan diwarnet kayak gue --____---'

    ReplyDelete
  16. nice :) zaman aku umur 6 taun aja masih mainan barbie sama ibu-ibuan loh, sekarang nih tetanggaku yg umur 6 taun udah punya facebook, twitter dan hobi bbman haha.. seharusnya dibatasi penggunaan internet untuk anak dibawah umur. dampak negatifnya lbh bnyk drpd positifnya :o

    ReplyDelete